Semester I jadi penentu keberlanjutan peningkatan produksi CPO Indonesia

Jum'at, 28 Januari 2022 | 17:34 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produksi minyak sawit mentah (cruide palm oil/CPO) Indonesia pada 2022 diprediksi mulai naik setelah sempat turun pada 2021. Namun kinerja produksi masih diwarnai ketidakpastian dan sangat ditentukan kondisi pada semester I/2022.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan produksi CPO mencapai 49 juta ton sedangkan minyak kernel sawit atau PKO mencapai 4,8 juta ton sehingga total produksi sebesar 53,8 juta ton. Volume ini lebih tinggi 4,87 ,% daripada total produksi 2021 yang berjumlah 51,3 juta ton.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan produksi minyak sawit memperlihatkan anomali pada 2021. Produksi yang umumnya lebih tinggi pada semester II justru mengalami penurunan dibandingkan dengan semester I/2021. "Sebab itu, produksi semester I/2022 akan menjadi petunjuk apakah penurunan produksi akan terus berlanjut atau akan terjadi kenaikan," kata Mukti di Jakarta, Jumat (28/1/2022).

Pemupukan yang terkendala tahun lalu akibat kelangkaan dan kenaikan harga pupuk akan memengaruhi produktivitas dan produksi 2022.Cuaca ekstrem basah yang terjadi awal 2022 tidak hanya berpengaruh ke produksi di semester I/2022, tetapi juga di semester II/2022.

Di tingkat global, pasokan minyak nabati (oilseed) juga masih diwarnai ketidakpastian. Harga minyak nabati pada Desember 2021 lebih tinggi daripada harga pada Desember 2020, tetapi lebih rendah dari harga November 2021.

"Selama Januari 2022, harga minyak nabati cenderung naik kembali. Fluktuasi harga ini disebabkan oleh banyaknya faktor ketidakpastian baik dari segi produksi maupun permintaan minyak nabati," papar Mukti.

Produksi oilseed pada 2022 diperkirakan melimpah meskipun kekeringan di Amerika Selatan masih menjadi faktor yang harus diperhatikan karena bisa menjadi pemicu penurunan produktivitas. Sayangnya, melimpahnya produksi oilseed tidak lantas akan meningkatkan pasokan minyak nabati.

Mukti mengatakan, harga oilmeal yang kurang menarik akan menjadi salah satu faktor yang menghambat normalisasi pasokan, di samping untuk pemulihan stok oilseed yang terkuras pada 2021. Mukti menjelaskan volume produk minyak sawit yang diekspor Indonesia juga berpotensi turun pada 2022, imbas dari kenaikan konsumsi domestik.

Gapki melaporkan, volume ekspor produk minyak sawit sepanjang 2021 naik hanya 0,6% dibandingkan dengan realisasi 2020. Pasokan yang terbatas imbas turunnya produksi menjadi penyebab kinerja 2021. Ekspor produk minyak sawit Indonesia 2021 yang mencakup minyak sawit mentah atau CPO, olahan CPO, palm kernel oil (PKO), oleokimia (termasuk dengan kode HS 2905, 2915, 3401 dan 3823), dan biodiesel (kode HS 3826) mencapai 34,2 juta ton atau naik 0,6% dibandingkan dengan realisasi ekspor 2020 sebesar 34,0 juta ton.

"Rendahnya kenaikan ekspor disebabkan keterbatasan pasokan, harga yang tinggi dan makin kecilnya perbedaan harga minyak sawit dengan minyak nabati lainnya terutama minyak kedelai," katanya. 

Adapun konsumsi domestik produk minyak sawit pada 2021 memperlihatkan kenaikan sampai 6% dibandingkan dengan 2020. Volume konsumsi domestik menyentuh 18,42 juta ton pada 2021 mencapai 18,422 juta ton.

Konsumsi untuk pangan naik 6% secara tahunan, oleokimia naik 25 persen dan biodiesel naik 2% daripada 2020. Mukti mengatakan, konsistensi pemerintah Indonesia dalam penerapan program mandatori biodiesel turut mengurangi pasokan dan mempengaruhi pasar ekspor minyak nabati dunia.kbc11

Bagikan artikel ini: