Khofifah dorong pesantren program OPOP manfaatkan peluang belanja pemerintah

Rabu, 23 Maret 2022 | 20:50 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong seluruh pesantren yang menjadi peserta program One Pesantren One Product (OPOP) manfaatkan peluang belanja pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk menjual produk mereka karena potensinya cukup besar.

Dalam acara "Silaturahmi dan Temu Bisnis Pesantren Peserta OPOP bersama Gubernur Jawa Timur" yang diselenggarakan di Surabaya, Rabu (23/3/2022), Khofifah menegaskan bahwa potensi belanja pemerintah, baik pusat maupun daerah cukup besar. Di tahun ini, pemerintah pusat menargetkan belanja daerah, baik provinsi maupun Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia mencapai Rp 200 triliun. Dan Jawa Timur dapatkan porsi sebesar Rp 26,8 triliun.

"Peluang belanja pemerintah sebenarnya  mencapai Rp 400 triliun, dengan perincian untuk departemen sebesar Rp 200 triliun dan pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten dan kota mencapai Rp 200 triliun. Sehingga total belanja pemerintah mencapai Rp 400 triliun. Untuk itu saya berharap PJ. Sekda sebagai Ketua OPOP mengondekturi peluang ini untuk OPOP," ujar Khofifah.

Agar peluang yang ada di depan mata tidak hilang, maka diperlukan sejumlah perbaikan, baik dari sisi kualitas produk hingga legalitas usaha yang dijalankan, mulai dari perijinan, sertifikat halal atau lain sebagainya.

"Ini harus dimaksimalkan karena keharusan belanja daerah itu, minimal 40 persen dari produk dalam negeri tetapi tetap harus sesuai dengan persyaratan. Tolong seluruh prosedur bisa dipenuhi. Peluang luar biasa sebesar Rp 26,8 triliun ini harus dipetakan, misal dipersiapkan pesantren mana bisa suplai produk apa. Jangan sampai terlewatkan karena peluang seperti ini seringkali kita lewatkan," tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut dia menjelaskan  sebenarnya Jawa Timur memiliki berbagai potensi luar biasa yang bisa dikembangkan. Di Jombang misalnya ada satu desa yang telah dicanangkan sebagai  desa devisa karena di desa tersebut ada sekitar 125 pengrajin pernak pernik dari kaca yang produknya telah dijual di banyak daerah, bahkan luar negeri.

Desa Devisa juga ada di Lamongan, dimana desa tersebut terkenal dengan banyaknya pengrajin batik gedog yang memproduksi batik mulai dari hilir yaitu produksi kapas hingga hilir atau proses pembuatan dan penjualan. Ia bercerita bahwa di sana, pengrajin tidak hanya membuat batik tetapi juga menyiapkan bahan baku kapas yang akan dijadikan sebagai kain yang akan dibatik. Uniknya, kapas tersebut tidak berwarna putih tetapi coklat.

Untuk itu, selain persyaratan standar, Khofifah juga menekankan berbagai hal yang harus dilakukan oleh pelaku usaha dan pesantren, diantaranya menyiapkan produk knowladge atau story telling tentang produk yang dihasilkan.

Selain itu, pesantren juga harus menekankan kepada estetika. Artinya, proses pengemasan dan desain produk harus enak dilihat. "Tren estetika juga menguat. Ini jangan karena di dunia pesantren itu alladzifi (apa adanya red ). Produk yang dijual harus look nice, indah dilihat, jangan sekedarnya," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua OPOP Jatim yang juga menjabat sebagai PJ. Sekda Provinsi Jatim Wahid Wahyudi menegaskan pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin melakukan optimalisasi program OPOP melalui tiga hal.

Pertama optimalisasi program pesantren preneur, dimana pesantren peserta OPOP harus memiliki leader atau pemimpin yang mampu menjalankan program OPOP,  sehingga harus mencerminkan karakter Chief Executive Officer atau CEO yang mampu mengembangkan pesantren menjadi lebih baik dan efektif, serta mampu mengembangkan ekonomi pesantren dan membangun jaringan.

"Target OPOP, satu pesantren diharapkan minimal memiliki satu produk unggulan. Dan produk itu harus bisa diterima pasar lokal nasional dan internasional," kata Wahid.

Dia mengungkapkan, pada tahun 2021 ada sekitar 550 pesantren yang menjadi peserta OPOP dan di tahun ini ada sekitar 200 pesantren baru yang menjadi peserta OPOP. Sehingga ada sekitar 750 pesantren do seluruh Jatim yang telah menjadi peserta program OPOP.

"Di tahun 2023 ditargetkan ada 250 pesantren baru lagi yang akan mengikuti sehingga akan ada 1000 pesantren yang menjadi peserta opo di tahun 2024 hingga ekonomi pesantren bisa terbangun," tandasnya.

Optimalisasi kedua adalah pembangunan santri atau santri preneur. Santri, ujarnya, harus memiliki satu kompetensi dan diharapkan setelah atau bahkan saat menjadi santri, santri sudah bisa merintis bisnis dan menjadi star-up baru. Dalam hal ini, santri tidak hanya dibekali ilmu agama tetapi juga diberi pembekalan wirausaha.

"Minimal mereka bisa melakukan analisa pasar, bisa memanfaatkan medsos untuk mempromosikan produk atau jasa yang dihasilkan," ujarnya.

Dan optimalisasi ketiga adalah sosio preneur. Masyarakat sekitar dan alumni pondok pesantren juga harus didorong untuk menjadi wirausaha.kbc6

Bagikan artikel ini: