Bangkit dari pandemi, Indonesia punya modal 4 Pilar Kebangsaan

Kamis, 24 Maret 2022 | 06:27 WIB ET

PASURUAN – Saat ini pandemi Covid-19 terus terkendali dengan baik. Fase transisi dari pandemi menuju endemi sedang disiapkan oleh pemerintah pusat.

Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Mufti Anam menilai, Indonesia memiliki modal penting untuk bangkit dari berbagai dampak negatif pandemi Covid-19, mulai dari dampak sektor kesehatan, sosial, hingga ekonomi. Modal itu adalah Empat Pilar Kebangsaan.

“Empat pilar tersebut semakin relevan untuk menjawab tantangan bangsa,” ujar Mufti saat menggelar sosialisasi di Pasuruan, belum lama ini, 22 Maret 2022.

Empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konsolidasi empat pilar ini pertama kali dilakukan oleh Almarhum Taufiq Kiemas saat tokoh kelahiran Sumatera itu menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2009-2014.

“Kita harus berjuang bersama untuk bangkit dari pandemi. Empat pilar kebangsaan menjadi terasa semakin relevan dan kita butuhkan hari-hari ini,” ujar Mufti Anam

Mufti memaparkan, salah satu dari empat pilar itu adalah Pancasila, ideologi bangsa, falsafah hidup, dan dasar negara, yang digali Bung Karno dari kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Pancasila pertama kali dicetuskan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945.

“Pancasila itu memang bersumber atau berasal dari rakyat Indonesia sendiri,” jelasnya.

Menurut Mufti, tantangan Indonesia kekinian setidaknya ada dua. Pertama, memulihkan dampak pandemi Covid-19, mulai dari sektor kesehatan, sosial, hingga ekonomi. Kedua, makin masifnya radikalisme agama.

”Nilai-nilai dalam 4 Pilar Kebangsaan dapat menjawab tantangan kekinian. Misalnya bagaimana kita membangun gotong royong dan kepedulian. Coba tengok tetangga kanan dan kiri, jangan sampai ada yang kesusahan, atau bahkan tak bisa makan. Mari saling bantu,” kata Mufi. 

Mufti juga mengajak warga untuk membangun ketahanan pangan berbasis potensi lokal dengan memanfaatkan lahan pekarangan. ”Tanam sayuran dan buah-buahan. Budidaya ikan atau kembangkan ternak skala mikro-kecil. Ini bisa menjadi jalan bisnis sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis keluarga. Ini solusi menghadapi potensi resesi,” ujar mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) tersebut.

Tak lupa, Mufti mengajak warga untuk selalu menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama. ”Meski berbeda agama, meski berbeda suku; kita berada dalam satu rumah besar: Indonesia tercinta. Kalau kita bertengkar karena beda agama, negara tidak akan bisa maju, daerah kita tidak akan bisa maju,” ujarnya.

Bagikan artikel ini: