Gejolak harga pangan kerap terjadi jelang puasa dan lebaran, KPPU: Elaborasi big data harus dilakukan

Jum'at, 1 April 2022 | 19:53 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kepala Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah IV Dendy Rahmad Sutrisno menegaskan  bahwa penting bagi pemangku kepentingan untuk mengelaborasi big data komoditas pangan, mulai dari data produksi hingga ketersediaan atau stok pangan di pasaran. Dengan adanya data tersebut, maka akan memudahkan pengawasan sehingga langkah yang bisa dilakukan tidak hanya terbatas pada sidak dan stabilisasi harga di saat harga melonjak.

"Karena menurut kami stabilisasi harga ini harusnya sudah bisa dilakukan jauh-jauh hari. Kami apresiasi tahun lalu kota Surabaya ketika cabai melonjak, Surabaya mencoba untuk mencari pasokan sejak Januari. Artinya ada persiapan cukup yang dilakukan pemkot Surabaya, ini bisa ditiru dan diimplementasikan di kota lainya," tandas Dendy di Surabaya, Jumat (1/4/2022).

Dendy menegaskan, sebenarnya stabilisasi harga adalah suatu rangakaian kegiatan yang sudah dilakukan jauh hari berdasarkan data yang ada, bagaimana prediksi kenaikan harga hingga bagaimana memastikan jumlah pasokan. Jika itu tidak terjadi, maka yang terlihat adalah langkah tergopoh yang dilakukan pemerintah di saat terjadi lonjakan harga. Padahal hal itu harusnya sudah bisa diantisipasi sebelumnya. 

"Untuk itu kami KPPU di Kanwil IV juga mendorong Tim Pengendali Inflasi Daerah Jatim dan daerah lain untuk bersama-sama meningkatkan program stabilisasi harga kita. KPPU juga mendukung program Gubernur Khofifah yaitu Lumbung Pangan. Harapan kami Lumbung Pangan ini bisa memenuhi ekspektasi ibu gubernur dan seluruh masyarakat Jatim untuk menjalankan stabilisasi harga. Apalagi tahun 2022 kita sudah diberikan kado yang tidak terlalu manis dengan kenaikan beberapa komoditas dan terakhir hari ini dengan kenaikan BBM," tegasnya.

Dendy menegaskan, selain BBM, sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan cukup signifikan di Jatim diantaranya adalah komoditas daging ayam, telur ayam, minyak goreng dan cabai.  Untuk itu, harus ada pengawasan yang lebih. Atas kondisi tersebut, KPPU terus melakukan evaluasi. Terakhir yang dilakukan KPPU adalah melakukan evaluasi terhadap distribusi minyak goreng yang ternyata ditemukan praktek yang tidak benar yang dilakukan oleh oknum pelaku usaha. Mereka mencoba memanfaatkan kondisi mahalnya minyak goring dengan membuat penjualan minyak goreng bersyarat.

"Dan Alhamdulilah selama KPPU melakukan advokasi dari temuan yang kita lakukan para pelaku usaha di kota Surabaya relatif bisa merubah prilakunya untuk mengentikan penjualan minyak goring secara bersyarat," terang Dendy.

Sementara itu, Direktur Ekonomi KPPU Mulyawan Ranamanggala mengungkapkan bahwa kenaikan berbagai kebutuhan pangan menjelang puasa disebabkan karena peningkatan kebutuhan. Dalam hal ini, sejak 6 tahun terakhir KPPU telah melakukan pemantauan pasar. Dari pantauan tersebut terlihat bahwa kenaikan yang terjadi terbilang tidak secara signifikan.

"Kecuali cabai, cabai kami mencatat mengalami kenaikan signifikan menjelang Ramadhan ini yaitu sebesar 27 persen. Kemudian minyak goreng, minyak goreng ini mengalami kenaikan signifikan yaitu 9 persen. Minyak goreng ini mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahunnya. Daging sapi juga mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahunnya tetap menjelang Ramadan kenaikan hanya dikisaran 0,30 persen, begitu juga dengan telur," ujarnya.

Sementara di tahun ini, berdasarkan dana Kementerian Perdagangan, stok cukup stabil. Prediksi produksi berbagai komoditas pangan bisa mencukupi antara satu hingga dua bulan, kecuali cabai. Karena produksi cabai karena produksi mengalami penurunan sebesar 3 persen sehingga kenaikan harga cabai diperkirakan akan terus terjadi sepanjang puasa hingga lebaran.kbc6

Bagikan artikel ini: