Terdorong tarif tol dan harga BBM, biaya logistik diprediksi ikut terkerek

Senin, 4 April 2022 | 11:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tarif angkutan logistik diprediksi akan mengalami kenaikan, menyusul dinaikkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif sejumlah ruas tol.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress Indonesia (Asperindo) M. Feriadi mengatakan, adanya kenaikan harga BBM dan tarif jalan tol tentu akan berpengaruh pada penyesuaian tarif angkutan logistik.

Untuk diketahui, pada 30 Maret 2022 tarif tol Cikopo-Palimanan telah mengalami penyesuaian. Hal itu berdasarkan keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 263/KPTS/M/2022 tentang Penyesuaian Tarif Tol Pada Jalan Tol Cikopo-Palimanan, pada 30 Maret 2022 mulai pukul 00.00 WIB.

Sebelumnya, telah ada penyesuaian tarif tol untuk ruas Cawang-Tomang-Pluit dan Cawang-Tanjung Priok-Ancol Timur-Jembatan Tiga/Pluit dengan kenaikan tarif sebesar Rp 500 untuk seluruh golongan kendaraan.

Sedangkan, untuk BBM juga mengalami penyesuaian harga pada awal April 2022 ini seiring harga minyak dunia yang terus meroket.

"Untuk kendaraan-kendaraan angkutan luar kota, memang kebanyakan menggunakan BBM solar. Dalam hal ini tentu perlu dicermati adalah akibat dari kenaikan seperti ini maka dapat akan memicu naiknya tarif logistik," ujar Feriadi seperti dikutip, Senin (4/4/2022).

Terkait naiknya tarif jalan tol, Feriadi menjelaskan, pemilihan jalan tol untuk mengantarkan barang sudah menjadi Service Level Agreement (SLA) antara perusahaan dengan pelanggan.

Feriadi bilang, untuk tujuan kota-kota tertentu, kebanyakan para pemain logistik menggunakan jalur darat karena dianggap lebih efisien secara biaya.

Tentunya, tarif pengiriman tidak akan ikut naik apabila tidak dipicu oleh komponen-komponen yang signifikan.

Menurut Feriadi, BBM adalah komponen utama yang sangat mempengaruhi aktivitas logistik. Sehingga, jika BBM ada penyesuaian tarif, maka perusahaan-perusahaan jasa pengiriman juga akan lakukan penyesuaian tarif.

Kendati demikian, Feriadi bilang, kenaikan tarif logistik tidak akan naik beriringan mengikuti naiknya harga BBM. Menurutnya, naiknya tarif logistik tentu harus melihat faktor kompetisi antar pemain logistik. Dengan demikian, maka perusahaan-perusahaan terus memiliki daya saing.

Hanya saja, sejauh ini masih belum ada diskusi terkait penyesuaian tarif logistik sebagai respons naiknya harga BBM dan naiknya tarif sejumlah tol.

Terkhusus 350 perusahaan yang tergabung dalam Asperindo, Feriadi mengatakan, semuanya masih saling menunggu respons masing-masing perusahaan. kbc10

Bagikan artikel ini: