Percepat pemulihan ekonomi, anggota MPR: Indonesia punya modal empat pilar kebangsaan

Senin, 25 April 2022 | 11:41 WIB ET

PASURUAN – Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Mufti Anam menyebut Indonesia memiliki modal yang sangat berharga untuk bangkit dari berbagai dampak negatif pandemi Covid-19, mulai dari dampak sektor kesehatan, sosial, hingga ekonomi. Modal itu adalah Empat Pilar Kebangsaan.

“Sekarang kita sedang menuju fase pemulihan ekonomi. Dengan pesan-pesan yang terkandung dalam empat pilar kebangsaan, Insya Allah kita bisa pulih lebih cepat,” ujar Mufti saat menggelar sosialisasi di Pasuruan, belum lama ini, 21 April 2022.

Empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut, jelas mantan ketua HIPMI Jatim itu, adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konsolidasi empat pilar ini pertama kali dilakukan oleh Almarhum Taufiq Kiemas saat tokoh kelahiran Sumatera itu menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2009-2014.

“Pandemi melelahkan kita, berpotensi menggerus nilai-nilai kita sebagai manusia Indonesia. Untungnya kita punya modal penting yaitu empat pilar kebangsaan yang saya kira semakin relevan dan kita butuhkan di masa sulit saat ini,” ujar Mufti Anam

Mufti memaparkan, salah satu dari empat pilar itu adalah Pancasila, ideologi bangsa, falsafah hidup, dan dasar negara, yang digali Bung Karno dari kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Pancasila pertama kali dicetuskan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945.

“Pancasila itu memang bersumber atau berasal dari rakyat Indonesia sendiri,” jelasnya.

Dari Pancasila, lanjut Mufti, kita bisa menggali nilai gotong royong yang bisa diimplementasikan dalam pemulihan ekonomi.

“Misalnya bagaimana kita bersama-sama membantu UMKM. Yang mampu, ayo beli produk UMKM dan produk dalam negeri. Itulah namanya gotong royong,” jelasnya.

Jika semua bersama-sama melaksanakan tindakan sederhana itu, papar Mufti, niscaya ekonomi rakyat akan berderap kencang. 

“Sehingga pemulihan ekonomi bisa lebih cepat dilakukan,” ujar mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) tersebut.

Tak lupa, Mufti juta mengajak warga untuk selalu menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama. ”Saat ini pemahaman yang intoleran menjadi ancaman bagi kita semua. Mari kita semua, meski berbeda agama, meski berbeda suku; kita berada dalam satu rumah besar: Indonesia tercinta. Kalau kita bertengkar karena beda agama, negara tidak akan bisa maju, daerah kita tidak akan bisa maju,” ujarnya.

Bagikan artikel ini: