Tertekan situasi global, daya beli rakyat masih kuat

Senin, 9 Mei 2022 | 08:35 WIB ET

Jakarta - Perekonomian Indonesia dalam kondisi baik, meski saat ini situasi global masih bergejolak. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Edy Priyono mengatakan, beberapa indikator perekonomian di awal 2022 masih tetap kuat. Hal itu, kata dia, tercermin dari kinerja sisi demand yang positif dan kekuatan produksi. 

 

Edy mengungkapkan, dari sisi demand, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencatatkan ekspansi 6 bulan berturut-turut, dan terakhir di level 111 atau di zona optimis (>100). 

"Ini menunjukkan bahwa optimisme konsumen terhadap perekonomian terjaga," kata Edy, di Jakarta, Minggu (8/5). 

Kinerja demand yang positif, terang Edy, juga ditunjukkan oleh Indeks penjualan ritel yang tumbuh 8,6 persen (yoy) pada Maret 2022. Menurutnya, pertumbuhan penjualan ritel yang cukup tinggi menjadi hal penting, mengingat penopang utama Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia adalah konsumsi rumah tangga. 

"Tren positif pertumbuhan penjualan ritel dan IKK diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekononi di triwulan-1 2022," jelasnya. 

Sementara dari sisi kekuatan produksi, lanjut Edy, terlihat dari keyakinan manajer bisnis di sektor manufaktur Indonesia, yang masih di zona ekspansif di level 51,3 pada Maret 2022, dan konsisten ekspansi selama tujuh bulan berturut-turut. 

Selain itu, kinerja positif sisi produksi juga tampak dari utilisasi industri pengolahan, yang mendekati level sebelum pandemi, yakni 72,45% pada triwulan-I 2022. "Dengan demikian risiko inflasi ke depan dapat diminimalisir," tegasnya. 

Edy membeberkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia. Dari sisi internal, Ia menyatakan, pemerintah telah berhasil melakukan penanganan dan pengendalian COVID19, dan pemulihan ekonomi nasional. 

Sedangkan secara eksternal, sambung dia, Indonesia diuntungkan dengan komoditas unggulan ekspor yang memberikan  dukungan fiskal. "Ini dibuktikan dengan cadangan devisa kita dan stabilitas rupiah," ucap Edy. 

"Indonesia mencatat surplus neraca dagang 23 bulan berturut-turut. Kombinasi faktor-faktor ini menguatkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia, sehingga investasi asing (FDI) pada Triwulan-I 2022 tumbuh signifikan 31,8 persen yoy," imbuhnya. 

Meski demikian, lanjut Edy, Indonesia tetap harus mewaspadai dampak lanjutan transmisi dari perang, kenaikan harga komoditas, kondisi pandemi COVID19 di China, dan potensi penurunan pertumbuhan ekonomi global. 

Jika kondisi tersebut terus berkelanjutan, kata Edy, akan berdampak pada meningkatnya inflasi, penurunan daya beli, dan menekan fiskal. 

"Mengingat APBN harus lebih banyak menyediakan dukungan bantalan sosial bagi masyarakat, dan terakhir menekan pasar keuangan melalui pelemahan rupiah serta meningkatnya tingkat bunga pasar," tambahnya. 

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah 

menyiapkan berbagai langkah antisipatif. Diantaranya, melakukan diversifikasi tujuan ekspor maupun sumber impor dan mendorong penggunaan local currency settlement system (LCS) dalam transaksi ekspor impor, serta mendorong efisiensi dan pemulihan industri pengolahan. 

"Pemerintah juga memperkuat perlindungan sosial ekonomi yang lebih tepat sasaran melalui reformasi subsidi dan pembenahan basis data," pungkasnya. kbc9

Bagikan artikel ini: