Pemerintah diminta tunda kenaikan harga BBM, listrik hingga LPG, ini alasannya

Kamis, 12 Mei 2022 | 13:48 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah diminta menunda kenaikan harga kebutuhan pokok di sektor energi, seperti harga Bahan Bakar Minyak (BBM), listrik, hingga LPG.

Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto.

"Sebisa mungkin kita tahan harga energi, LPG, pertalite, listrik, dan beberapa harga kebutuhan pokok," ujar Eko saat diskusi daring, Rabu (11/5/2022).

Dia mengatakan bahwa daya beli masyarakat harus tetap dijaga agar konsumsi rumah tangga dapat melaju lebih tinggi lagi seiring pandemi yang semakin terkendali.

"Efek dari pengendalian pandemi ini ternyata membuahkan hasil, daya beli masyarakatnya cukup kuat," ujar Eko.

Dia bilang, jika pemerintah menaikan harga-harga tersebut, maka performa ekonomi akan semakin berat untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 5,2 persen.

"Jadi, pasca lebaran ini, kita sarankan untuk tidak segera menaikkan berbagai macam harga-harga yang secara Internasional ada kenaikan tetapi ya sebisa mungkin harus kita tahan," kata Eko.

Eko mengatakan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang sebesar 4,34 persen yoy pada kuartal I-2022 lebih disebabkan karena sebelumnya konsumsi rumah tangga terkontraksi pada kuartal I-2021.

"Jadi secara keseluruhan sebetulnya pertumbuhan konsumsi kita belum pulih-pulih banget," imbuhnya.

Sehingga, lanjut dia, kalau ke depan akan ada upaya meningkatkan sejumlah administered price, diperkirakan daya beli masyarakat akan menurun usai Lebaran.

Hal ini tampak dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang tercatat menurun pada kuartal I-2022, meski masih di atas 100 atau masyarakat masih optimistis. IKK sepanjang Januari sampai Maret 2022 tercatat sebesar 119,6, 113,1, dan 111, sementara IKE tercatat sebesar 100,9, 95,5, dan 93,9. kbc10

Bagikan artikel ini: