Era industri 4.0 ancam hilangnya lapangan pekerjaan? Ini kata bos Kadin

Kamis, 19 Mei 2022 | 06:54 WIB ET
Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsyad Rasyid
Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsyad Rasyid

SURABAYA, kabarbisnis.com: Dunia telah memasuki era industri 4.0 yang ditunjukkan dengan percepatan konektifitas, informasi dan otorisasi di industri karena kemajuan teknologi. Namun percepatan peralatan otomasi dan digitalisasi di Indonesia miliki risiko untuk menggantikan tenaga kerja manual  yang mengakibatkan hilangnya pekerjaan manusia.

Hal ini menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsyad Rasyid harus dicarikan solusinya melalui perbaikan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Jika tidak hal tersebut tidak dilakukan, maka bisa dipastikan angka pengangguran akan terus bertambah besar.

"Jika kita tidak dapat mengiringi perkembangan teknologi tersebut, terdapat ancaman peningkatan jumlah pengangguran yang mengakibatkan peningkatan angka kemiskinan dan krisis sosial di Indonesia. Segera kita harus perbaiki bersama," tegas Arsyad Rasyid saat Webinar tentang Implementasi Pendidikan Vokasi yang diselenggarakan oleh Kadin Jatim dalam rangkaian HUT ke-11 Kadin Institute, Surabaya, Selasa (17/5/2022).

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sekolah SMK masih menjadi yang tertinggi, dimana angkanya mencapai 11,13 per Agustus 2021. "Hal ini menekankan pentingnya peningkatan sistem pendidikan vokasi di Indonesia, utamanya dalam menghadapi tantangan revolusi Industri 4.0," tambahnya.

Dan untuk merealisasikan program penguatan pendidikan vokasi di Indonesia, pemerintah telah membentuk Tim Koordinasi Revitalisasi Pendidikan Vokasi yang tertuang dalam Perpres nomor 68/2022 tentang revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi.

"Kadin sebagai wadah yang merepresentasikan seluruh pengusaha di Indonesia akan terus berkomitmen  membantu pemerintah bangun sistem pendidikan vokasi yang lebih terintegrasi dan lebih berorientasi pada kebutuhan dunia induatri di Indonesia. Sehingga nantinya pendidikan vokasi di Indonesia memiliki daya konversi yang tinggi dari pelajar ke tenaga kerja produktif yang menunjukkan lulusan vokasi dapat terserap dunia usaha dan industri," tambahnya.

Kadin optimis jika upaya ini dapat dilakukan bersama melalui kolaborasi inklusif antara pemerintah, pelaku industri dan dunia pendidikan, maka akan dapat mencetak SDM yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Arsyad optimistis langkah ini akan membantu mewujudkan visi Indonesia menjadi negara berkekuatan ekonomi ke lima terbesar di dunia pada tahun 2045 pada waktu kita selenggarakan 100 tahun Indonesia merdeka.

"Dan momentum HUT ke-11 Kadin Institute ini juga sebagai bentuk kolaborasi antara Kadin Jatim dan Kadin Institute bersama seluruh stakeholder terkait sebagai upaya peningkatan kapasitas SDM Indonesia yang unggul dan berdaya saing," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang juga menjadi salah satu narasumber dalam webinar mengungkapkan bahwa pada Agustus 2021, TPT Jatim telah mengalami penurunan sebesar 0,1 persen menjadi 5,74 persen dari total jumlah penduduk usia kerja Jatim yang mencapai 31,89 juta.

"TPT tertinggi masih lulusan SMK sebesar 9,54 persen dan terendah lulusan SD sebesar 3,15 persen. Untuk itu, Pemprov Jatim telah berupaya menurunkan angka TPT dengan berbagai starategi dan juga berupaya meningkatkan kualitas SDM dam daya saing melalui berbagai strategi," katanya.

Beberapa strategi untuk peningkatan daya saing diantaranya adalah dengan melibatkan industri dalam pengembangan pendidikan vokasi, peningkatan relevansi daya saing pendidikan menengah dan dengan penguatan adopsi teknologi dan penciptaan inovasi.kbc6

Bagikan artikel ini: