Pedagang pasar minta kebutuhan migor terpenuhi sebelum keran ekspor dibuka

Jum'at, 20 Mei 2022 | 07:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menilai pembukaan kembali ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan minyak goreng (migor) menandakan ketidaksiapan menteri teknis melakukan regulasi dan capaian regulasi yang diharapkan oleh Presiden Joko Widodo.

"Kami kecewa terhadap Menko Perekonomian, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan karena tidak mampu merealisasikan perintah dari bapak Presiden," kata Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/5/2022).

Menurutnya, presiden mengharapkan agar Harga Eceran Tertinggi (HET) bisa terpenuhi di pasar tradisional dan barang melimpah. Akan tetapi faktanya IKAPPI belum mendapati minyak goreng curah itu cukup melimpah di pasar tradisional.

"IKAPPI sendiri menilai bahwa ekspor seharusnya dibuka agar pendapatan negara juga tetap berjalan, tetapi kebutuhan dalam negeri harus terpenuhi," kata dia.

Untuk itu, IKAPPI meminta kepada kementerian teknis untuk mencari formulasi yang tepat agar distribusi bisa berjalan dengan baik dan keberadaan minyak goreng melimpah di pasar.

"Jika melimpah di pasar diharapkan harga terus menurun sampai detik ini harga masih di atas Rp 17.000 atau di kisaran Rp 18.000, bahkan ada yang 19.000 per liter," kata Reynaldi.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan akan kembali membuka ekspor CPO dan minyak goreng pada 23 Mei 2022. Kebijakan ini diklaim mempertimbangkan keberlanjutan nasib 17 juta tenaga kerja di industri sawit, baik petani, pekerja, maupun tenaga pendukung lainnya.

"Meskipun ekspor dibuka, pemerintah akan tetap mengawasi dan memantau dengan ketat agar pasokan terpenuhi dan terjangkau," kata Jokowi dalam keterangan resmi, Kamis (19/5/2022).

Pemerintah sebelumnya melarang ekspor CPO dan minyak goreng pada 28 April 2022. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan minyak goreng di dalam negeri.

Jokowi mengatakan, kebutuhan nasional minyak goreng curah sekitar 194 ribu ton per bulan telah tercukupi. Adapun sebelum pelarangan ekspor, harga rata-rata nasional untuk minyak goreng curah berkisar Rp 19.800. Namun pasca-ekspor dilarang, harga minyak goreng turun menjadi Rp 17.200 - 17.600. kbc10

Bagikan artikel ini: