Ratusan pelaku UMKM di Surabaya ikuti edukasi cari cuan bersama Kredit Pintar

Sabtu, 21 Mei 2022 | 07:42 WIB ET
Dari kiri; Brand Supervisor Kredit Pintar Puji Sukaryadi, Founder Mambu Suroboyoan Irawan Prasetyo, Head of Marketing Kredit Pintar Willy Apriando, dan Offline Sales Associate Director Kredit Pintar Satria Putera pada acara Kelas Pintar Bersama di Surabaya.
Dari kiri; Brand Supervisor Kredit Pintar Puji Sukaryadi, Founder Mambu Suroboyoan Irawan Prasetyo, Head of Marketing Kredit Pintar Willy Apriando, dan Offline Sales Associate Director Kredit Pintar Satria Putera pada acara Kelas Pintar Bersama di Surabaya.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah membawa dampak bagi masyarakat. Mulai dari kehilangan pekerjaan, kebangkrutan dalam berbisnis, dan sebagainya. Namun di balik itu, sebagian orang menemukan titik balik dengan bangkit menjalani usaha yang sudah ada atau peluang baru.

Untuk itu, edukasi maupun tambahan wawasan terkait ide bisnis dan mengelola usaha sangat dibutuhkan. Hal ini ditangkap Kredit Pintar dengan menggelar Kelas Pintar Bersama dengan mengedukasi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan masyarakat umum terkait peluang bisnis dan literasi keuangan agar bisa bersama bangkit di momen pemulihan perekonomian nasional.

Kali ini, Kelas Pintar Bersama yang diinisiasi Kredit Pintar melibatkan sekitar 120 pelaku UMKM di Surabaya pada Jumat (20/5/2022).

Menurut Head of Marketing Kredit Pintar, Willy Apriando, Kelas Pintar Bersama merupakan persembahan Kredit Pintar untuk merangkul dan mengedukasi komunitas guna meningkatkan literasi keuangan serta pemberdayaan UMKM.

"Dalam Kelas Pintar Bersama, Kredit Pintar juga mengajak para pembicara tamu sesuai dengan bidang expertnya masing-masing untuk turut berpartisipasi dan berbagi tips-tips yang bermanfaat bagi para peserta," katanya di sela gelaran Kelas Pintar Bersama di Surabaya, Jumat (20/5/2022) malam.

Selain itu, lanjut dia, dengan kegiatan tersebut Kredit Pintar berharap adanya brand awareness terkait pengetahuan masyarakat dalam memilih pinjaman online (pinjol) yang benar, mengingat banyaknya sentimen negatif selama ini terkait pinjol ilegal yang meresahkan masyarakat.

Kredit Pintar merupakan perusahaan penyelenggara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang memiliki izin dan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah beroperasi sejak 2017.

"Nah, Kredit Pintar sebagai pihak swasta yang mendukung program percepatan pemulihan ekonomi nasional, membuka peluang seluas-luasnya bagi para pelaku UMKM yang membutuhkan pemodalan," ujar Puji Sukaryadi, Brand Supervisor Kredit Pintar.

Hingga saat ini Kredit Pintar telah menyalurkan total pinjaman lebih dari Rp 27 triliun dimana sekitar setengah nasabahnya, meminjam uang untuk tujuan modal usaha kecil atau pendidikan. Total peminjam sejak Kredit Pintar didirikan berjumlah 7.856.629 nasabah.

Dalam kesempatan yang sama, Offline Sales Associate Director Kredit Pintar, Satria Putera menambahkan, Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah kota Jakarta. Sebagai kota metropolitan, Surabaya merupakan sentral perekonomian di Jawa Timur.

"Kami melihat Surabaya sebagai pasar yang sangat potensial dan diperhitungkan untuk dikembangkan secara serius dan berkelanjutan. Warga Surabaya juga memiliki jiwa wirausaha yang tinggi, terbukti dengan banyaknya UMKM termasuk pedagang-pedagang kecil di hampir setiap sudut kota," ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya berharap melalui kegiatan ini masyarakat kota Surabaya dapat mengenal lebih baik produk Kredit Pintar dan memanfaatkan produk tersebut secara positif baik untuk keperluan pribadi ataupun keperluan usaha mereka, sehingga Kredit Pintar juga dapat berpartisipasi aktif dalam menumbuhkan ekonomi kerakyatan di Surabaya.

Inspirasi dari Mambu Suroboyoan

Sementara itu pada acara Kelas Pintar Bersama yang digelar di Surabaya, menghadirkan Irawan Prasetyo, Founder Mambu Suroboyoan, brand lokal asli kota Surabaya yang menjual kaus dengan konsep desain berbau Suroboyoan, yang mengangkat budaya Parikan alias Pantun khas Jawa Timur.

Irawan juga merasakan apa yang dialami kebanyakan orang-orang di masa pandemi. Omset usaha kausnya menurun drastis. Pendapatannya terjun bebas. Padahal dia sudah menumpuk stock di gudang.

"Sebelumnya rata-rata omset kami Rp 7-12 juta per bulan, bahkan yang paling tinggi berhasil sampai Rp 25 juta. Namun begitu pandemi turun menjadi Rp 3-5 juta perbulan. Rekor terburuk kami pernah hanya mendapat Rp 500 ribu di bulan Februari 2021," ungkap Irawan pada saat sharing session di hadapan para pelaku UMKM.

Meski badai pandemi menghantam usaha Irawan, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya, dia tak gentar untuk tetap menjalankan usaha kaus Mambu Suroboyoan yang kerap dicari turis sebagai cenderamata khas Surabaya. Irawan melihat ini sebagai peluang karena belum ada produk asli lokal Surabaya yang berkonsep seperti Mambu Suroboyoan.

Dia pun nekat menjual mobilnya sebagai tambahan modal usaha. Berbagai promosi dan kolaborasi pun dilakukannya melalui media sosial Instagram @kaosmambu. Perlahan mulai muncul titik terang. Permintaan kaus kembali datang. Stok kaus yang menumpuk di gudang pun pada akhirnya habis terjual.

Pelaku UMKM seperti Irawan inilah yang kemudian membuat UMKM menjadi sektor yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena turut serta sebagai pendorong, dan berkontribusi dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional. kbc7

Bagikan artikel ini: