REI sebut rencana kenaikan harga rumah subsidi tak akan pengaruhi penjualan

Minggu, 22 Mei 2022 | 13:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Real Estate Indonesia (REI) meyakini rencana kenaikan harga rumah subsidi pada tahun ini tidak akan berimbas signifikan terhadap penjualan rumah.

Ketua Umum REI Paulus Totok Lusida menuturkan, kenaikan harga rumah subsidi juga akan diimbangi dengan skema pembiayaan yang lebih inovatif. Saat ini, Totok menyebut pelaku usaha bersama dengan perbankan sudah berdiskusi dengan intensif untuk menyusun pembiayaan yang semakin memudahkan masyarakat. Utamanya untuk kelas pekerja.

"Saya optimistis penaikan harga rumah subsidi nggak berdampak ke penjualan akhir tahun. Karena kita selalu cari terobosan. Sebagai pengusaha. Salah satunya soal beberapa skema perumahan," ujarnya dalam konferensi pers HUT REI ke-50, Jumat (20/5/2022).

Salah satunya, skema pembiayaan rumah Rent to Own Home. Atau skema "sewa beli rumah". Skema ini merupakan jenis perjanjian khusus yang memungkinkan konsumen dapat membeli rumah setelah beberapa tahun menyewanya.

Hingga akhir tahun ini, REI mengharapkan agar tingkat penjualan rumah dari anggotanya bisa tumbuh positif. Pasalnya kondisi pandemi pada akhir tahun ini jauh lebih baik dibandingkan dengan pada tahun lalu.

Totok pun meminta agar momentum positif yang dihadapi pelaku saat ini dapat dijaga oleh pemerintah dengan melakukan terobosan dalam proses perizinan yang ada.

"Kami harapkan memang meningkat sepuluh persen target penjualan tahun ini. Karena pandemi sudah jadi endemi," ujarnya.

Sebelumnya, Totok Lusida menjelaskan alasan harga rumah subsidi akan naik sebesar 7 persen pada tahun ini. Menurutnya, kenaikan harga material bangunan menyebabkan biaya pembangunan rumah bersubsidi menjadi lebih mahal, sehingga penyesuaian harga perlu dilakukan.

"Akibat perang dan terhambatnya logistik, harga bahan material bangunan semakin naik harganya, material besi misalnya naik dari Rp6.500 sekarang sudah Rp14.000. Selain itu harga semen juga naik. Oleh sebab itu harga rumah subsidi harus disesuaikan," kata Totok.

Totok mengungkapkan, REI awalnya mengusulkan kepada pemerintah untuk menaikkan harga rumah subsidi sebesar 10 persen hingga 15 persen. Namun, setelah dilakukan pembahasan lebih lanjut, akhirnya disepakati bahwa kenaikan harga sebesar 7 persen.

"Dengan mempertimbangkan inflasi dan kesejahteraan sosial, terlebih penjualan properti mandek selama dua tahun, akhirnya disepakati oleh Kementerian PUPR kenaikan harga rumah subsidi sebesar 7 persen," tuturnya.

Meski kenaikan harga di bawah usulan yang disampaikan, tapi Totok mengatakan kenaikan harga rumah 7 persen masih menguntungkan pengembang rumah subsidi.

Totol menyatakan bahwa berdasarkan sosialisasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) harga rumah bersubsidi akan naik pada tahun ini. 

Realisasi kenaikan harga rumah subsidi diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan Juni 2022 karena masih menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan.

"Masih menunggu persetujuan dari Kemenkeu, untuk bebas PPN-nya, untuk kenaikan itu diperkirakan paling cepat direalisasikan bulan Juni 2022," jelas Totok.

Menurut Totok, harga rumah subsidi sudah tiga tahun tidak naik. Oleh karena itu, kenaikan harga diperlukan untuk menjaga kualitas bangunan rumah subsidi. kbc10

Bagikan artikel ini: