Tingkatkan pendapatan petani, RI operasikan pabrik sawit tanpa uap

Kamis, 26 Mei 2022 | 12:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri sawit nasional memasuki fase revolusi teknologi teranyar. Apabila tidak ada aral melintang, petani di Jambi mulai mengoperasikan steamless palm oil technology atau Pabrik Minyak Sawit Tanpa Uap (PMTU) pada Juni 2022 mendatang.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri  Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menuturkan pengoperasian teknologi PMTU diharapkan mampu dioperasikan korporasi petani di 26 provinsi. Pengoperasian PMTU diyakini ini akan menaikkan posisi tawar petani kecil. "Teknologinya ,tengah dipatenkan di Amerika Serikat," ujar Sahat dalam webinar ‘Inovasi Sawit Dalam Industri Pangan’, Rabu (25/5/2022).

Menurut Sahat, selama ini tandan buah segar (TBS) yang dipanen diolah di pabrik untuk disterilisasi  menggunakan mesin ketel (uap). Selanjutnya, diperas diambil minyak sawit mentahnya (CPO). Kemudian biji sawit dipecahkan dan kernel diperas untuk diambil minyak inti sawit (PKO).

Namun pengolahan dengan teknologi tanpa uap, kandungan klorin yang mengandung senyawa karsinogenik dari proses pemurnian CPO yang menghasilkan Refined, Bleached, Deodorized (RBD) Olien dapat memenuhi standar pasar internasional. Adapun pengoperasian PMTU lebih efisien dan ramah lingkungan.

Pasalnya proses pengolahan tidak perlu mengambil air sungai yang menghasilkan emisi karbon sebanyak 1,29 ton eCO2 per ton CPO dari Palm Oil Mill Effluent (POME) atau  limbah cair kelapa sawit. Sahat mengingatkan model 'sterilisasi' dalam pengolahan buah sawit selama 100 tahun berjalan justru menghilangkan sejumlah nutrisi penting yang dikandung dalam minyak sawit.

Pengoperasian mesin uap juga menghasilkan losses minyak hingga 5%. Sementara konsumsi listrik yang dipergunakan untuk mengubah biogas menjadi energi listrik juga besar yakni 18-20 per KWh. "Makanya pola pengolahan dengan uap perlu diubah," tegasnya.

Sahat meyakini penggunaan PMTU akan meningkatkan nilai tambah yang  dinikmati petani sawit. Produk yang dihasilkan petani sawit dalam perusahaan kelapa sawit (PKS) bukan hanya CP0. "Kalau selama ini (petani sawit) menjual Rp 100, (dengan PMTU petani sawit) bisa mendapatkan Rp 175 dari kebun sawit mereka," kata sahat.

Catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebutkan, volume ekspor olahan CPO pada 2021 mencapai 25,7 juta ton, sementara total ekspor mencapai 34,23 juta ton. Artinya, RBD Olein berkontribusi sekitar 46,69% dari total ekspor Olahan CPO dan 35,05% dari total ekspor CPO dan turunannya.

Sahat berharap pemerintah mendukung pembangunan PKS dengan radius terjauh sejauh 25 Km dari kebun sawit. Dukungan tersebut dapat berupa pendanaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Sahat menilai, pengoperasian PMTU  memiliki tingkat efisiensi tinggi sehingga dapat menarik pembiayaan dari sekor perbankan.

Kepala Divisi Program Pelayanan Badan Penyaluran Dana Kelapa Sawit (BPDPKS) Arfie Thahar mengatakan pihaknya dapat mendukung proyek PTMU melalui program sarana dan prasarana. Nantinya Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian akan mengeluarkan rekomendasi teknis. Bentuk PKS yang diusulkan oleh Arfie adalah PKS Mini yang memiliki kapasitas produksi lebih kecil dari pabrik pada umumnya sebesar 60-120 ton per hari.kbc11

Bagikan artikel ini: