RI menuju pemulihan ekonomi, Empat Pilar Kebangsaan jadi modal bangkit dari pandemi

Senin, 30 Mei 2022 | 09:52 WIB ET

PASURUAN – Anggota MPR RI Mufti Anam mengajak masyarakat untuk terus memperkuat modal sosial berupa gotong royong agar Indonesia bisa semakin pulih dan bangkit dari dampak pandemi Covid-19.

Mufti mengatakan, lebih dari dua tahun pandemi memang telah memukul berbagai sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hingga ekonomi. Di bidang ekonomi, misalnya, sejumlah usaha kesulitan bertahan sehingga berdampak pada pemutusan hubungan kerja.

Saat ini, imbuh politisi PDI Perjuangan itu, Indonesia memasuki fase pemulihan. Pandemi secara bertahap bisa dikendalikan dengan gotong royong banyak pihak. Untuk bisa mengakselerasi fase pemulihan, Mufti mengajak warga menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar Kebangsaan.

“Dengan pesan-pesan yang terkandung dalam empat pilar kebangsaan, Insya Allah kita bisa pulih lebih cepat, bisa kembali bangkit setelah dua tahun terpukul oleh pandemi,” ujar Mufti saat menggelar sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Pasuruan, akhir pekan lalu, 28 Mei 2022.

Empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut, jelas mantan ketua HIPMI Jatim itu, adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konsolidasi empat pilar ini pertama kali dilakukan oleh Almarhum Taufiq Kiemas saat tokoh kelahiran Sumatera itu menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2009-2014.

“Pandemi pastinya memang melelahkan, menggerus nilai-nilai kita sebagai manusia Indonesia. Untungnya kita punya modal penting yaitu empat pilar kebangsaan yang saya kira semakin relevan dan kita butuhkan di masa sulit saat ini,” ujar Mufti Anam.

Mufti memaparkan, salah satu dari empat pilar itu adalah Pancasila, ideologi bangsa, falsafah hidup, dan dasar negara, yang digali Bung Karno dari kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Pancasila pertama kali dicetuskan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945.

“Pancasila itu memang bersumber atau berasal dari rakyat Indonesia sendiri,” jelasnya.

Dari Pancasila, lanjut Mufti, kita bisa menggali nilai gotong royong yang bisa diimplementasikan dalam pemulihan ekonomi.

“Misalnya bagaimana kita bersama-sama membantu UMKM. Yang mampu, ayo beli produk UMKM dan produk dalam negeri. Itulah namanya gotong royong,” jelasnya.

Jika semua bersama-sama melaksanakan tindakan sederhana itu, papar Mufti, niscaya ekonomi rakyat akan berderap kencang. 

“Sehingga pemulihan ekonomi bisa lebih cepat dilakukan,” ujar mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) tersebut.

Tak lupa, Mufti mengajak warga untuk selalu menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama. ”Meski berbeda agama, meski berbeda suku; kita berada dalam satu rumah besar: Indonesia tercinta. Kalau kita bertengkar karena beda agama, negara tidak akan bisa maju, daerah kita tidak akan bisa maju,” ujarnya.

Bagikan artikel ini: