Blibli bakal IPO tahun ini, analis: Tergantung ekspektasi potensi valuasi

Selasa, 7 Juni 2022 | 10:10 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kabar rencana penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) oleh PT Global Digital Niaga atau Blibli.com di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menyeruak.

Dalam sebuah pemberitaan menyebutkan bahwa Blibli akan menggalang dana sebesar US$500 juta. Rencananya IPO ini paling cepat dilangsungkan pada Juni atau Juli tahun ini.

Terkait wacana itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatalan, perusahaan teknologi sangat berkaitan erat dengan ekosistem yang ditawarkan sehingga bisa mempengaruhi jumlah penggunanya.

Bicara soal IPO Blibli, Nico bilang semua kembali pada bagaimana ekspektasi dan persepsi pelaku pasar dan investor terhadap perusahaan rintisan ini. Serta ekosistem seperti apa yang ditawarkan oleh Blibli.

"Jadi semua tergantung ekspektasi terhadap potensi valuasi di masa yang akan datang dari Blibli dan juga persepsi pelaku pasar dan investor yang menjadi poin penting apakah bisa menerima kondisi perusahaan startup," kata Nico seperti dikutip, Senin (6/6/2022).

Langkah Blibli ini bakal mengikuti jejak PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang telah lebih dahulu mencatatkannya sahamnya di bursa efek.

Pada 6 Agustus 2021, BUKA menjadi unicorn pertama yang IPO di bursa saham dalam negeri. BUKA mematok harga saham IPO di level Rp 850 per saham, alhasil BUKA berhasil meraup dana segar Rp 21,9 triliun.

Sementara, GOTO mencatatkan sahamnya di BEI pada 11 Maret 2022. GOTO Melepas 40,61 miliar saham seharga Rp 338 per saham ke publik, GOTO berhasil meraih dana segar senilai Rp 13,72 triliun.

Seiring berjalan waktu, harga saham keduanya perusahaan tersebut tergerus. BUKA sudah jauh berdada di bawah harga IPO. Sementara, pada akhir perdagangan kemarin, saham GOTO ditutup anjlok 6,78% ke posisi Rp 330.

Kinerja saham dua teknologi yang kurang apik ini, Menurut Nico ada kemungkinan bahwa pelaku pasar memiliki rasa trauma pada saham-saham teknologi atau start up. Semua kembali pada ekspektasi dan persepsi pelaku pasar.

Nico menegaskan, untuk saat ini dirinya dan pelaku pasar belum bisa menghitung potensi valuasi yang akan datang karena belum ada detil soal harga saham yang bakal ditawarkan oleh Blibli.

Namun, kehadiran Blibli di pasar Bursa Indonesia nampaknya belum bisa mendorong perusahaan teknologi di dalam negeri untuk bangkit. Nico menilai masa perusahaan teknologi di Indonesia sudah berakhir, khususnya pada tahun ini.

"Kami melihat saham-saham teknologi sebelumnya berkibar tentunya akan berputar khususnya tahun ini sehingga masih banyak sektor lain yang bisa memberikan keuntungan di masa yang akan datang jauh lebih dibandingkan sektor teknologi," ungkapnya. kbc10

Bagikan artikel ini: