Lima bulan, penyelewengan BBM bersubsidi capai 181.583 liter

Kamis, 23 Juni 2022 | 20:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan terjadinya penyalahgunaan bahan bakar minyak  (BBM) bersubsidi sebesar 181.583 liter dari total BBM sebesar 231.455 liter. Perhitungan volume BBM tersebut terhitung selama periode Januari-Mei 2022.

Kepala BPH Migas Erika Renowati mengatakan, BBM jenis Solar menjadi yang paling banyak dicurangi dengan volume sebesar 176.783 liter. Selanjutnya disusul dengan praktik pengoplosan BBM sejumlah 49.422 liter dan penyelewengan minyak tanah bersubsidi 3.925 liter.

Sementara kecurangan pada Pertalite mencapai 875 liter. Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah dengan praktik kecurangan tertinggi dengan jumlah barang bukti sebesar yakni 68.775 liter. Disusul dengan Provinsi Jawa Barat dan Jambi masing-masing 47.316 liter dan 37.852 liter.

"Dari jumlah barang bukti sebesar 257.455 liter, dimana 231.455 liter barang bukti memenuhi unsur pidana dan 26.000 liter tidak memenuhi unsur pidana," kata Erika saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR pada Kamis (23/6/2022).

Guna meminimalisir penyalahgunaan BBM bersubsidi, BPH Migas melakukan sejumlah model pengawasan baru dengan metode digitalisasi nozzle. Program ini sejatinya sudah dimulai sejak 31 Agustus 2018 dengan proses penyempurnaan yang masih berjalan. Program yang dijalankan PT Pertamina bersama dengan PT Telkom Indonesia ini ditujukan untuk meningkatkan akuntabilitas data penyaluran BBM kepada konsumen sekaligus meningkatkan fungsi pengaturan dan pengawasan BPH Migas terhadap kegiatan pendistribusian BBM di seluruh SPBU.

"Progresnya sampai 16 Juni sudah 5.518 SPBU telah terdigitalisasi. Kami bisa melihat posisi stok BBMnya karena sudah terpasang Automatic Tank Gauge (ATG) . Dari jumlah tersebut sebanyak 4.303 SPBU dilengkapi pengawasan penyaluran Solar dengan pencatatan nopol untuk pembeli solar," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: