Kembangkan sistem 'Bule', Holding Perkebunan siap sukseskan swasembada pangan

Kamis, 14 Juli 2022 | 17:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Holding Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN III melalui anak usahanya terus melakukan riset dan pengembangan untuk mendukung dan menyukseskan program swasembada pangan nasional.

Salah satu terobosan termutakhir adalah meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan tebu sekaligus meningkatkan produksi kedelai melalui pilot project tumpang sari (intercropping) tebu-kedelai atau dikenal dengan sistem Bule.

Gagasan ini diinisiasi oleh Holding Perkebunan Nusantara III (Persero) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dimana luasan areal yang dimiliki PTPN turut memberikan andil dalam meningkatkan produksi kedelai di Indonesia dan khususnya produksi tebu untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi nasional.

Mengawal kesuksesan pengembangan Sistem Bule ini, PTPN Group bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Institut Pertanian Bogor (IPB).Pilot project sistem tumpang sari Bule akan dilakukan di areal PTPN Group seluas 50 hektare (ha) di empat lokasi, yaitu di PTPN VII, PTPN IX, PTPN X dan PTPN XI.

"Total areal yang dikerjasamakan seluas 50 hektare, yaitu kolaborasi UGM dan PTPN IX, X, dan XI. Selanjutnya, kami akan bekerja sama dengan IPB untuk mengawal pilot project sistem Bule di PTPN VII," ujar Direktur Produksi dan Pengembangan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Mahmudi di Jakarta, Kamis (14/7/2022).

Pengembangan komoditas kedelai di lahan tumpang sari ini akan terus kembangkan. Potensi tahun depan seluas 15.000 ha di lahan HGU PTPN Group lainnya. Direktur PTPN IX Dodik Ristiawan menambahkan, sebelum pilot project sistem Bule, perseroan juga sudah melakukan tumpang sari kedelai di lahan karet.

"Sebelumnya kami sudah melakukan sistem tumpang sari karet-kedelai, bekerja sama dengan Dinas Perkebunan Kabupaten seluas 10 hektare," kata Dodik.

Pada sistem tumpang sari Bule tersebut, penanaman kedelai dilakukan di lahan tebu yang ditanam dengan dua cara yaitu secara konvensional atau larikan, dan ring-pit masing-masing seluas 5 hektare. Melalui sistem tumpang sari ini, diharapkan produktivitas tebu dapat meningkat karena terjadi peningkatan kesuburan tanah melalui penambahan biomasa kedelai.

Perwakilan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Ir Irham MSc menjelaskan, terdapat beberapa keuntungan sistem Bule. Keuntungan tersebut antara lain, mampu meningkatkan kesehatan lahan pertanaman karena ada penambahan masukan biomasa kedelai ke dalam lahan pertanaman tebu, serta meningkatkan ketersediaan nitrogen (N) bagi tanaman tebu dengan memanfaatkan kemampuan fiksasi Nitrogen secara biologis tanaman kedelai.

Selain itu, sistem Bule dalam jangka panjang juga akan memperbaiki kesuburan tanah, sehingga meningkatkan rerata produktivitas tebu nasional dan turut berkontribusi pada peningkatan produksi gula nasional.

Masuknya kedelai di lahan tebu pun mampu meningkatkan luas areal penanaman kedelai nasional. Inilah yang menjadi tujuan dari pengembangan sistem Bule, meningkatkan produksi kedelai nasional yang berasal dari produksi kedelai di areal pertanaman tebu Pulau Jawa.

Beberapa kajian yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan nisbah kesetaraan lahan dari 1,0 menjadi 1,2 - 1,3, dapat menjamin kecukupan pasokan raw material (tebu giling) pabrik gula-pabrik gula. "Harapannya tentu meningkatkan minat petani untuk menanam tebu, karena nilai keuntungan per unit lebih baik," pungkas Irham.kbc11

Bagikan artikel ini: