Dapat suntikan Alibaba Rp1,5 triliun, begini penjelasan resmi Smartfren ke BEI

Jum'at, 29 Juli 2022 | 08:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) resmi melepas 6 persen atau 19,6 miliar kepemilikan saham PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) ke Grup Alibaba.

Hal tersebut dibenarkan oleh Direktur PT Smartfren Telecom Tbk. Antony Susilo. Antony menyatakan Alibaba telah menginvestasikan dana US$100 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.886 per dolar AS) ke Smartfren Telecom.

Dalam surat bernomor 057/SFTbk-CS/VII/2022 yang ditujukan ke Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia per 28 Juli 2022, Antony mengkonfirmasi pemberitaan yang ditanyakan otoritas kepada pihaknya.

BEI sebelumnya meminta pejelasan ke Smartfren atas pemberitaan di media massa bertajuk "China's Alibaba is said to Invest over$100m in Sinar Mas Group's SmartfrenTelecom" yang terdapat di Deal Street Asia pada 27 Juli 2022.

Dalam jawabannya ke BEI, Antony membenarkan berita tersebut. Penjualan saham FREN itu dilakukan oleh Dian Swastika Sentosa yang merupakan salah satu entitas usaha Grup Sinar Mas. "Melalui strategi Beyond Telco, FREN fokus mengembangkan layanan digital baru," kata Antony dalam keterangan resmi, Kamis (28/7/2022).

Oleh sebab itu, kata Antony, Smartfren terus mencari kesempatan untuk berkolaborasi dengan penyedia jasa lokal maupun global. Dengan begitu, kinerja FREN diharapkan dapat terus meningkat ke depan.

Sekretaris Perusahaan PT Dian Swastika Sentosa Tbk. Susan Chandra sebelumnya menyebutkan perseroan menjual 6 persen saham FREN atau setara 19.604.974.800 (19,6 miliar) saham. Pembelian dilakukan di harga Rp 77 per saham, sehingga total transaksi mencapai Rp 1,5 triliun.

"Tanggal transaksi penjualan saham FREN dilakukan pada 26 Juli 2022," kata Susan.

Usai transaksi itu, DSSA resmi memegang 52,98 miliar saham FREN atau setara dengan kepemilikan 17 persen saham. Angka itu turun dari posisi sebelumnya yakni memiliki 72,59 miliar saham atau 23 persen FREN. Adapun tujuan transaksi penjualan saham FREN ialah kolaborasi bisnis.

Di lantai bursa, pada perdagangan hari ini, Kamis, 28 Juli 2022, saham FREN terpantau naik 3,12 persen atau 3 poin menjadi Rp 99 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 31,2 triliun dengan valuasi PER 305,22 kali. Bila dirunut sejak awal tahun 2022 ini, saham FREN telah naik 13,79 persen.

FREN sebelumnya menyampaikan ambisinya terkait mega proyek data center berkapasitas 1.000 megawatts (MW) dari konsorsium Sinar Mas dan Dubai. Presiden Direktur Smartfren Telecom Merza Fachys menyatakan induk perusahaan yaitu Grup Sinar Mas dan perusahaan asal Dubai, Group 42 (G42) telah bersepakat bakal membangun data center berkapasitas 1.000 MW.

Angka itu hampir sepuluh kali lipat dari total kapasitas data center di Indonesia. "Dalam MoU kita sepakat akan membangun 1.000 MW. Bayangkan seluruh Indonesia kalau dijumlahkan hari ini total baru sekitar 159 MW," katanya.

Saat ini, kata Merza, Smartfren telah mulai menggarap mega proyek tersebut. Pengerjaan proyek dimulai dari perencanaan teknis, survei lokasi dan beberapa perancangan. Perencanaan dan perancangan ini yang dinilai akan sedikit memakan waktu.

Setelah kedua hal terlengkapi, FREN baru akan membeberkan alokasi belanja modal atau capex yang akan dikeluarkan. "Dari hasil survei dan desain, nanti baru bisa dilihat berapa biaya yang dibutuhkan kami. Secepatnya akan kami kerjakan karena tidak boleh terlalu lama," ucap Merza.

Sementara itu, anak usaha Sinar Mas yaitu PT Mora Telematika Indonesia Tbk. atau Moratelindo (MORA) juga sedang memperkuat segmen bisnis data center. Direktur Utama Moratelindo Galumbang Menak menyatakan, dengan dana Rp 1 triliun tersebut, perseroan mampu meningkatkan kapasitas data center miliknya.

"Kami selalu mengandalkan pinjaman bank maupun sukuk atau ijarah. Dengan IPO ini, dengan perkiraan dana Rp 1 triliun, modal usaha akan meningkat," ujar Galumbang.

Dia menyebutkan investasi MORA di masa mendatang bakal difokuskan untuk memperluas jangkauan, memperluas akses fiber to the home dan building, ducting, dan memperbesar kapasitas pusat data atau data center milik perseroan. "Sekarang ini kami memiliki data center yang kapasitasnya sudah 70 persen dan akan segera kami upgrade atau perbesar kapasitasnya," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: