Industri properti diklaim pulih dari dampak pandemi Covid-19

Jum'at, 26 Agustus 2022 | 20:19 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Strategy and IR Role 99 Group Indonesia mengklaim Industri properti nasional sudah beranjak pulih usai dihantam badai Pandemi Covid-19. Adapun harga rumah yang banyak menjadi incaran berada di rentang Rp 500 juta sampai dengan Rp 2 miliar.

Hal tersebut terungkap dari webinar Indonesia Property Market Review 2022 di Jakarta, Jumat (26/8/2022). Hadir sebagai pembicara VP of Finance 99 Group Indonesia Timothy Alamsyah, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda dan Direktur MAS Group Suwandi Tio.

Timothy Alamsyah melihat beranjaknya industri properti di Tanah Air terlihat dari kenaikan harga properti yang berkisar 4% dalam setahun. Pergerakan harga beranjak di Juli 2021 sampai dengan Juli 2022. Padahal pada Januari 2020-Juli 2021 pergerakan harga terbilang melandai.

Dia meyakni, pulihnya kinerja industri properti nasional dari pandemi Covid-19 ditandai dari besarnya animo masyarakat mengiklankan kembali aset propertinya di portal rumah123.com. Iklan rumah masih mendominasi pencarian calon pembeli yakni 69,8%, kemudian tanah 13,3%, properti lainnya 10,1%. Harga properti di rentang Rp 1 miliar - Rp 5 miliar berada di posisi teratas pencarian minat.

Kawasan Jabodetabek sebagai pusat ekonomi nasional masih menjadi pilhan utama pencari properti yakni menacpai 62%, sebesar 31% diantaranya area Jakarta, khususnya Jakarta Selatan. Sementara di kota-kota besar seperti Tangerang, Bandung, Surabaya dan Medan juga menjadi pilihan.

Sementara Ali Tranghanda melihat harga  rumah antara Rp 500 juta - Rp 2 miliar paling banyak diincar pembeli. Ali memproyeksikan kinerja industri properti masih akan tumbuh pada paruh kedua 2022. IPW mencatat penjualan properti pada kuartal II-2022 naik 5,6% dibandingkan realisasi Januari-Maret 2022. Menurut Ali, pertumbuhan penjualan properti selama pandemi didukung oleh pertumbuhan harga komoditas.

Ali mencontohkan, harga minyak sawit mentah atau CPO yang terus tumbuh sepanjang 2021 hingga kuartal II-2022. Menurutnya, penjualan properti akan tumbuh sekitar 1-2 tahun setelah harga komoditas tumbuh. Dengan demikian, Ali memperkirakan penjualan properti di dalam negeri akan terus tumbuh hingga akhir 2022.

Namun Ali mengakui insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) seperti tertuang dalam PMK Nomor 6/PMK 010/2020 menjadi faktor pemacu penjualan properti di Tanah Air. Kendati demikian, Ali berpendapat penjualan properti akan mulai melambat pada awal 2023 sampai pertengahan 2024 yang notabene merupakan tahun politik.kbc11

Bagikan artikel ini: