Tingkatkan porsi biomassa PLTU Paiton jadi 30%, listrik dari EBT bertambah 108 MW

Minggu, 4 September 2022 | 18:51 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT PLN (Persero) melalui anak usahanya PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) terus menambah pasokan listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mendukung pelaksanaan KTT G20 pada November 2022.

Pengujian High Co-firing Ratio (HCR) di PLTU Paiton 1-2 (2x400 MW) telah dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus-1 September 2022. Pengujian ini terlaksana berkat kerjasama antara PT PLN (Persero) Divisi EBT, PT PLN (Persero) Puslitbang dan PT PJB PLTU Paiton, yang telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya.

Direktur Mega Proyek dan EBT PT PLN (Persero), Wiluyo Kusdwiharto menyampaikan dukungannya atas keberhasilan PLTU Paiton 1-2 melaksanakan Uji Coba HCR tersebut.

"Peningkatan porsi biomassa sebagai substitusi batu bara di PLTU merupakan salah satu upaya PLN guna mendukung program strategis korporat Green Booster," kata Wiluyo Kusdwiharto dalam siaran resmi yang diterima kabarbisnis.com, Surabaya, Minggu (4/9/2022).

Direktur Operasi II PJB, Rachmanoe Indarto mengutarakan uji coba peningkatan porsi biomassa yang sebelumnya sebesar 6 persen di PLTU Paiton telah berhasil dilaksanakan pada tanggal 4-8 Juli 2022.

"Pasca uji 6 persen, PJB terus melanjutkan pengembangan co-firing menuju target HCR 30 persen, yang diawali dengan pengujian kemampuan individu coal mill hingga 50 persen biomassa. Setelah kami yakin coal mill mampu malakukan grinding biomassa hingga 50 persen, pengembangan terus kami lakukan hingga hari ini pengujian 30 persen berhasil dilaksanakan," ujar Rachmanoe.

Pengujian co-firing 30 persen dilakukan di PLTU Paiton unit 1 dengan beban 360 MW selama 16 jam menggunakan biomassa serbuk kayu sebanyak 960 ton. Selama pengujian, tidak ditemukan anomali parameter operasional unit dan beban 360 MW dapat terjaga tetap stabil. Dengan berhasilnya uji HCR ini, MW Green PLTU Paiton bisa dimaksimalkan hingga 108 MW, hanya dengan menggunakan auxiliary equipment existing.

Rachmanoe mengungkapkan, biomassa yang menggantikan batu bara memiliki kelebihan dalam pembakaran yang lebih optimal dibanding batu bara, dikarenakan memiliki daya bakar yang lebih tinggi daripada batu bara. Dari aspek lingkungan, kadar sulfur yang jauh lebih rendah dari batu bara juga akan mampu mereduksi emisi SOx di sisi gas buang. Selain itu kadar abu yang dari hasil pembakaran lebih ramah lingkungan.

"Dengan persentase lebih tinggi dari yang sebelumnya 5-6 persen menjadi 30 persen saya kira ini hal yang sangat baik. Kemarin kan kita sudah mencoba di PLTU Tembilahan hingga 100 persen co-firing biomasanya cangkang sawit kita coba bertahap 25, 50, 75, hingga 100 persen dalam watu 4 hari, Alhamdulillah pengujian berjalan lancar dengan hasil di luar prediksi kami secara umum daya maksimum tercapai masih dalam batasan normal," paparnya.

Menurutnya, kenaikan porsi biomassa pada PLTU meningkatkan pasokan listrik dari energi baru terbarukan sebesar 108 megawatt (MW). PLN pun tidak menambah belanja modal (capex) untuk meningkatkan kapasitas tersebut.

"Uji coba co-firing HCR biomassa 30 persen yang dilakukan PLTU Paiton setara dengan 108 MW Green. Apabila PLTU Batubara typical memiliki CF 75 persen jika kita bandingkan dengan investasi PLTS dengan CF 15 persen maka akan dibutuhkan 540 MW PLTS baru. Untuk membangun PLTS 540 MW baru kita akan membutuhkan lahan seluas 540 hektar dan capex sebesar 6,5 Triliyun Rupiah. Dengan keberhasilan uji HCR 30 persen tanpa capex ini, akan mampu meningkatkan porsi bauran EBT tanpa capex yang besar," tutupnya.

Hingga saat ini PJB telah berhasil Go-Live komersil co-firing di 14 PLTU. Total produksi green energy yang dihasilkan hingga 1 September sendiri mencapai 140, 62 GWh. Jika dibandingkan pencapain produksi green energy di tahun 2021 yang mencapai 140, 49 GWh, PJB optimis akan dapat menaikan total produksi green energy hingga akhir tahun 2022.kbc6

Bagikan artikel ini: