Tingkatkan nilai tambah, PSDKU Universitas Brawijaya dampingi petani kopi di Malang

Sabtu, 24 September 2022 | 20:33 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Rendahnya kesadaran petani atas pentingnya keberadaan mereka sebagai pelaku utama dalam ekosistem pertanian menjadi salah satu faktor utama rendahnya daya tawar petani.

Untuk itu, Program Studi Diluar Kampus Utama ( PSDKU)  Universitas Brawijaya (UB) Kediri melaksanakan rangkaian kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan melakukan edukasi dan penguatan kapasitas petani kopi di Dusun Glagah Ombo, Desa Sumbersuko Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, Jumat (23/9/2022).

Kegiatan yang diinisiasli oleh Ahli Bidang Strategi Pemasaran , Dr.Edi Purwanto, STP, MM , Ahli Bidang Lingkungan Berkelanjutan Dr. Ir. Rita Parmawati, SP., ME., IPU, Ahli Bidang Manajemen Agribisnis Dr. Fadli Mulyadi, SP., MP, Ahli Bidang Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Wuwun Risvita, SP, MP dan mahasiswa di Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian (FP) UB ini diharapkan bisa menjadi penyemangat petani untuk terus maju dan meningkatkan kemampuan mereka.

Dr. Edi Purwanto yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian dan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mengungkapkan, selama ini petani kopi, termasuk di Malang, hanya menanam kemudian menjualnya disaat panen kepada tengkulak dengan harga yang rendah. Mereka tidak pernah menghitung berapa besar biaya produksi yang ia keluarkan.

“Sehingga pemahaman tentang finansial literasi dan kesadaran sebagai pelaku utama dalam ekosistem pertanian harus ditanamkan kepada mereka, termasuk juga bagaimana meningkatkan nilai tambah dengan melakukan pengolahan pasca panen,” ujar Dr. Edi Purwanto ketika dikonfirmasi dari Surabaya, Sabtu (24/9/2022) malam.

Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang dilakukan pada kesempatan tersebut adalah edukasi kesadaran pentingnya mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal sebagai upaya memperkuat ekosistem pertanian yang lebih produktif, ramah lingkungan dan lebih mensejahterakan.

Selain Edukasi, juga dilaksanakan kegiatan pelatihan pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi pupuk organik dan pestisida nabati. “Selama ini para petani kopi, pada saat panen, kulitnya langsung dibuang begitu saja, padahal dengan sedikit perlakuan yang juga menggunakan bahan alam yaitu tetes tebu atau gula batok, malah bisa menjadi pupuk organik dan pestisida nabati,” ujar Dr. Wuwun Ristiva.

Produk ini memiliki banyak kelebihan, diantaranya lebih diserap tanah dan memiliki unsur mikro lebih lengkap. Disamping itu, pupuk organik dan pestisida nabati yang dihasilkan dari kulit kopi ini bisa mengurangi biaya pupuk dan juga bisa dijual sehingga bisa meningkatkan nilai tambah bagi petani.

"Pemanfaatan kulit kopi, secara managemen akan semakin meningkatkan nilai tambah bagi petani karena sudah berfikir bukan semata berbudidaya kopi saja," ungkap Dr. Fadli.

Disisi lain, Dr. Rita Parmawati sebagai Ahli Lingkungan menambahkan, dengan pemanfaatan limbah kulit kopi, maka dari sisi lingkungan, juga akan semakin membuat pola budidaya yang ramah lingkungan.

Dr. Edi Purwanto menambahkan, bahwa pemanfaatan kulit kopi menjadi produk olahan Pupuk Organik dan Pestisida Nabati, akan membuat budidaya lebih produktif dan sehat, mengurangi biaya pembelian pupuk dan pestisida.

“Selanjutnya para petani bisa dikoordinir secara bersama sama dengan modal sangat murah, dibuat kemasan yang bagus dan memanfaatkan  media promo yang optimal, akan menjadi tambahan penghasilan para petani yang muaranya tentu peningkatan kesejahteraan," kata Dr. Edi.

Mas Wito, salah satu petani kopi milenial yang mengikuti kegiatan tersebut menyatakan sangat senang dan antusias. Baginya, kegiatan ini sangat berguna karena selama ini petani di desa Sumbersuko tidak memahami tentang hal tersebut. “Kami sangat senang, Bapak Ibu Dosen Pertanian Brawijaya berkenan hadir di dusun kami dan memberikan ilmu dan praktek pemanfaatan kulit kopi yang memang selama ini belum dimanfaatkan"

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mas Pietra, pegiat petani yang selama puluhan tahun membersamai para petani desa Sumbersuko, bahwa jika kopi disemprot dengan menggunakan pestisida nabati dari kulit kopi hama penyakit relative minimal.

“Tentunya kami sangat mengapresiasi upaya yang bagus dari teman teman dosen UB dan ini menjadi kerja bareng untuk terus berupaya meningkatkan dan memajukan para petani dengan segenap potensi yang luar biasa agar kesejahteraan terus semakin bagus," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: