Suku bunga acuan baik, kredit konsumsi berpotensi susut

Senin, 26 September 2022 | 08:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2022. Kali ini, suku bunga acuan dikerek sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan BI untuk meningkatkan suku bunga acuan ini merupakan langkah front-loaded, pre-emptive, dan forward looking dalam menjaga ekspektasi inflasi ke depan dan tingkat inflasi inti.

Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Gerindra Kamrussamad mengatakan, bahwa kenaikan suku bunga acuan BI akan berdampak kepada perlambatan kinerja sektor rill. Sehingga dirinya mengingatkan agar BI segera mempersiapkan langkah mitigasi.

Dia menyebut, kondisi moneter Indonesia saat ini memang menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu tekanan eksternal dari kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) dan tekanan internal dari eskalasi inflasi.

"Inflasi inti kita sudah mencapai 3,04% secara tahunan. Inflasi inti merupakan indikator penting permintaan dan penawaran masyarakat yang sesungguhnya. Daya beli kian melemah," katanya seperti dikutip, Minggu (25/9/2022).

Menurutnya, dengan adanya kenaikan suku bunga BI tersebut, minat pelaku usaha meminjam dari perbankan akan menurun, begitu pula dengan kredit konsumsi. Hal ini dikarenakan bunga akan menjadi lebih mahal di tengah permintaan konsumen yang juga melemah.

Selain itu, kenaikan suku bunga BI juga akan menyebabkan likuiditas berkurang. Menurutnya, kombinasi berkurangnya likuiditas dan daya beli yang menurun akan membawa risiko lanjutan pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.

"Kondisi ini akan membuat sektor riil, dunia usaha, perlu melakukan penyesuaian sehingga tetap bisa survive sampai terjadi keseimbangan baru. Karena itu, BI perlu juga menyiapkan langkah-langkah mitigasi dari dampak kenaikan suku bunga ini. Sektor riil harus tetap memiliki ruang tumbuh yang luas," katanya. kbc10

Bagikan artikel ini: