Ikuti sosialisasi 4 pilar MPR, Hipmi Surabaya komitmen jadi pengusaha berjiwa nasionalis

Selasa, 27 September 2022 | 09:09 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ratusan anggota dan calon pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Surabaya mengikuti sosialisasi 4 Pilar MPR RI oleh Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Senin (26/9/2022).

Hadir pada kesempatan tersebut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Dr Muhammad Nafik Hadi Ryandono, SE., M.Si, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto beserta jajaran, Ketua Kadin Surabaya Muhammad Ali Affandi, Ketua Umum BPC HIPMI Surabaya Denny Yan Rustanto, Ketua Umum BPC HIPMI Bangkalan Zhafira Ayu Ratri Aldania dan sejumlah pengusaha milenial.

Denny Yan mengungkapkan, sosialisasi 4 Pilar MPR RI bagi anak muda yang berprofesi sebagai pengusaha adalah hal yang sangat penting. "Melalui kegiatan ini kami merasa diingatkan kembali untuk menjadi pengusaha yang berjiwa nasionalis karena pengusaha adalah garda depan bangsa di bidang ekonomi," tegas Denny Yan usai Sosialisasi 4 Pilar MPR RI.

Apalagi kebanyakan anggota Hipmi Surabaya adalah pengusaha dengan rentan umur antara 18 tahun hingga 40 tahun. "Jiwa nasionalisme dan patriotisme harus ditumbuhkan sejak dini sehingga ketika kami menjadi pengusaha besar dan sukses, kami tetap menjadi pengusaha yang berlandaskan nasionalis dan cinta tanah air, tidak menjadi pengusaha kapitalis yang tega menjual negara untuk kepentingan pribadi," tekannya.

 Lebih lanjut dia mengungkapkan, sebenarnya pengusaha di Jatim, khususnya Surabaya sudah memiliki jiwa nasionalisme, tetapi aplikasinya yang kadang masih belum maksimal. "Saya yakin setiap pemuda khususnya para pengusaha sudah ada jiwa nasionalisme dan patriotisme. Karena jika tidak memiliki, tidak mungkin mereka mau menjadi pengusaha yang harus memperjuangkan hidup orang banyak. Hanya saja, itu perlu diasah agar tetap tajam dan tidak tumpul," ujar Denny.

Jangan sampai tujuan mereka yang mulia di saat membuka perusahaan akhirnya tergadaikan karena memilih langkah yang keliru.

"Jangan sampai yang awalnya saat membuka perusuhaan itu niatnya untuk membantu ekonomi daerah, menjadi keliru dengan menjual aset bangsa kepada asing, melupakan nilai bangsa sendiri dalam berbisnis. Karena menjual aset kepada asing itu yang harus dihindari," tegasnya.

Untuk itu dia berharap, pengusaha muda di Surabaya bisa menjadi pengusaha yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam membangun bisnis sehingga mereka tidak hanya bisa menjadi pemimpin di perusahaan tetapi juga bisa menjadi pemimpin dalam masyarakat utamanya untuk bangsa dan Tanah Air.

Sementara pada kesempatan tersebut, Ketua DPD RI sekaligus senator asal Jatim AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali kepada konsep ekonomi Pancasila yang diarahkan untuk kesejahteraan rakyat.

Menurutnya, dalam konsep ekonomi Pancasila, perekonomian diarahkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. "Karena itu, secara ideal ekonomi negara ini digerakkan oleh tiga entitas yakni koperasi, BUMN dan BUMD serta swasta nasional dan asing," kata LaNyalla.

Ekonomi Pancasila, lanjutnya, miliki konsep 4 P, yaitu Public, Private, People dan Partnership bisa dijalankan. Yaitu keterlibatan secara bersama, negara, swasta, dan rakyat dalam sebuah kerja bersama.

"Rakyat harus berada dalam posisi sebagai bagian dari pemilik kedaulatan atas wilayah, atau sumber daya alam di daerahnya. Sehingga keterlibatan rakyat mutlak menjadi persyaratan sebuah investasi sektor strategis. Sehingga keadilan sosial terwujud, dan kesejahteraan sosial dapat diwujudkan," ujar LaNyalla.

Pada kesempatan yang sama dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Dr Muhammad Nafik Hadi Ryandono, mengungkapkan sudah saatnya pengusaha bergerak untuk menciptakan perubahan. karena sejauh ini ekonomi nasional telah melenceng dari pilar Pancasila.

"Indonesia memiliki banyak potensi yang sangat besar, Indonesia adalah penghasil kepala sawit terbesar dunia, penghasil karet  nomor dua di dunia, dan penghasil coklat serta kopi terbesar ke tiga dunia, bahkan populasi kita adalah yang terbesar ke 4 dunia. Tetapi ironisnya, kita masih sangat tergantung dengan asing. Kita adalah negara maritim yang miliki produksi garam sangat besar, tetapi impor garam kita mencapai 40 persen dari kebutuhan. Gandum, 100 persen kita impor, kedelai 90 persen impor, susu 80 persen juga impor," tegasnya.

Untuk itu, diam bukan lagi langkah yang benar. Saatnya rakyat Indonesia, termasuk pengusaha untuk berjuang dengan membeli dan membela Indonesia dengan menghidupkan persaudaraan dan cinta Tanah Air.

"Bagaimana caranya, maka kita harus bangun, memberikan kesadaran, mengubah mindset, menentukan tujuan dan yang terakhir harus berani," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: