Siap-siap! Suku bunga tinggi perbankan bakal hantui 2023

Jum'at, 7 Oktober 2022 | 10:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kenaikan suku bunga oleh bank sentral di berbagai negara diprediksi masih akan terjadi sampai 2023 mendatang. Bank Indonesia (BI) pun telah menaikkan tingkat suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar 0,5% atau 50 basis poin menjadi 4,25% pada bulan lalu. Ini menjadi salah satu upaya merespons kenaikan inflasi yang terjadi.

Plt Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Abdurrahman mengatakan, kalau banyak risiko yang dialami termasuk eskalasi tekanan yang tak hanya global tapi juga masing-masing negara.

Setiap negara, termasuk Indonesia dihadapkan dengan tekanan inflasi akibat disrupsi suplai akibat pandemi dan perang Rusia-Ukraina.

Inflasi ini direspons berbagai bank sentral di dunia untuk menaikkan tingkat suku bunga. Amerika Serikat, Eropa, dan Inggris tercatat telah menaikkan suku bunga cukup tinggi sejak awal tahun 2022.

"Dengan lonjakan inflasi yang berkepanjangan kenaikan suku bunga ini diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2023," kata dia baru-baru ini.

Dia mencatat, pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan berbagai negara menimbulkan gejolak di pasar keuangan. Misalnya, potensi krisis utang dunia, krisis energi, dan krisis pangan global.

Sejalan dengan itu, likuiditas global semakin ketat. Amerika Serikat misalnya telah menaikkan tingkat suku bunga hingga 300 basis poin sejak awal 2022. Tujuannya untuk mengatasi tekanan inflasi yang cukup tinggi.

"Langkah serupa juga ditetapkan oleh banyak negara. Baik di negara G20 maupun negara berkembang lainnya. Inggris dan Eropa masing-masing telah menaikkan 200 basis poin dan 125 basis poin sepanjang tahun 2022," terangnya.

Sementara itu Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar menyatakan jika era suku bunga rendah sudah berakhir. Namun yang harus dijaga adalah jangan terlalu shock dan kecepatan menaikan bunganya.

"Antisipasi untuk hal ini, saya yakin, teman-teman di industri sudah siap merespons hal ini. Suku bunga rendah sudah lewat, suku bunga relatif akan naik dan 2023 masih akan cukup tinggi," jelas Royke.

Di sisi lain, hal ini tidak akan menahan untuk ekspansi, misalnya saja menurut Royke tahun depan justru BNI akan menambah di investasi digital dalam jumlah yang cukup besar.

"Di era suku bunga tinggi ini, digital justru jadi pilihan karena semua akan serba digital," tegas Royke.

Ke depan karena situasi belum menentu ditambah ada sinyal dari Bank Indonesia untuk kembali menaikan suku bunga, Royke memprediksi perbankan akan lebih selektif memberikan ekspansi kreditnya. Kecuali kalau misalnya The Fed tak terlalu agresif sehingga ini akan menolong Indonesia dan juga banyak negara di dunia untuk sedikit banyak mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Pada waktu itu akan lihat ekspansi kredit kita akan terus berlanjut," pungkas Royke. kbc10

Bagikan artikel ini: