KSP: Isu ijazah palsu Presiden hanya kegaduhan, baiknya fokus pada ancaman krisis

Jum'at, 14 Oktober 2022 | 10:18 WIB ET

Jakarta - Kantor Staf Presiden (KSP) menyerukan kepada publik untuk tidak mudah terhasut pada isu-isu yang belum terkonfirmasi kebenarannya dan mulai berfokus pada isu kenegaraan yang lebih besar pengaruhnya bagi masyarakat.

Hal ini diserukan oleh KSP dalam menanggapi berkembangnya isu ijazah palsu Presiden Joko Widodo di sosial media dalam sepekan terakhir.

“Indonesia telah menorehkan prestasi karena menjadi salah satu negara di dunia yang tangguh menangani pandemi COVID-19. Sayangnya, prestasi membanggakan yang harusnya dielu-elukan ini malah tidak terlihat karena berkembangnya tuduhan ijazah palsu Presiden,” kata Tenaga Ahli Utama KSP, Joanes Joko, Kamis (13/10).

Pria yang akrab disapa Joko ini juga menegaskan bahwa publik tidak perlu fokus untuk mencari tahu motif dan pelaku dibalik tuduhan ijazah palsu Presiden Jokowi. Sebaliknya, Ia menyerukan agar semua pihak mengerahkan pikiran dan tenaga menghadapi ketidakpastian global kedepan. 

“Tuduhan ijazah palsu ini tidak lebih dari kegaduhan membabi buta. Narasinya miskin empati terhadap situasi krisis global yang saat ini sedang dihadapi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Joko menjelaskan bahwa Indonesia memiliki prestasi membanggakan yang patut diapresiasi dan mendapatkan perhatian dari publik, misalnya terkait capaian ekonomi Indonesia yang tetap tangguh bahkan di tengah goncangan pandemi COVID-19.

Perlu diketahui, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5% selama tiga triwulan berturut-turut, termasuk di Q2-2022. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai target 5,2% di 2022, dan pada 2023 pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan 5,3%. 

Tidak hanya itu, dunia juga mengapresiasi kepemimpinan Indonesia dalam G20 yang konsisten mengkampanyekan perdamaian, kesetaraan serta ketahanan menghadapi krisis ekonomi, pangan dan energi.

“Namun sama seperti banyak negara lain di dunia, Indonesia juga tengah bersiap menghadapi krisis global. Mari pikirkan bagaimana caranya agar bangsa Indonesia tetap sejahtera, kebutuhan keluarga tetap terpenuhi dan bahan pangan tetap terjangkau. Kita harus mencurahkan energi dan pikiran untuk hal-hal yang produktif demi maslahat masyarakat banyak,” pungkas Joko.

Bagikan artikel ini: