Meski pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, Sri Mulyani minta RI tetap waspada

Kamis, 20 Oktober 2022 | 10:23 WIB ET

JAKARTA,.kabarbisnis.com: Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Outlook Ekonomi Global merevisi pertumbuhan ekonomi seluruh negara semakin ke bawah. Amerika Serikat bahkan dikoreksi sangat tajam pada tahun 2022 dan 2023. Sementara Eropa tahun 2022 masih 3,1 persen namun akan terus menurun proyeksinya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, proyeksi yang direvisi tersebut tentu besar kemungkinan akan terjadi resesi di negara tersebut.

"Sekarang kata-kata resesi bukannya tidak mungkin di Amerika Serikat dan Eropa. Kenaikan harga yang sangat tinggi dan kemudian memaksa bank sentral ECB menaikkan suku bunga secara agresif juga bahkan diperkirakan tahun 2022 hingga 2023 kemungkinan terjadi resesi," ujar Sri Mulyani dikutip dari webunar, Rabu (19/10/2022).

Negara yang diambang resesi selanjutnya yakni China, kepemimpinan nasionalnya sudah mengalami pelemahan ekonomi baik karena lockdown maupun karena kondisi dunia serta sektor properti yang telah menimbulkan dampak yang luar biasa.

"Angka kuartal ketiga belum keluar, namun diperkirakan cukup tajam melemah," terang dia.

Indonesia, menurutnya, perlu mewaspadai gejolak tersebut, walaupun tahun 2022 hingga 2023 masih diprediksikan tumbuh di atas 5 persen. Namun faktor eksternal menjadi sangat dominan dan ini mempengaruhi bagaimana kinerja ekonomi Indonesia.

"Penurunan proyeksi terjadi semua di semua negara, baik negara maju maupun berkembang. Untuk Inggrisnya tadinya 2022 naik dengan terjadinya krisis APBN yang ada di Inggris kemungkinan akan mengalami revisi ke bawah karena guncangan yang terjadi karena apbn mereka yang tidak kredibel yang dipaksa kemudian harus berubah ini sangat-sangat besar," terang dia.

Sementara negara-negara emerging yang juga mengalami kondisi yang relatif tertekan meskipun di dalam situasi saat ini seperti India, Indonesia, Brazil, Meksiko relatif dalam situasi yang cukup baik, namun tidak berarti mereka tidak terpengaruhi oleh kondisi eksternal yang masih bergejolak.

Bendahara Negara ini menyebut salah satu penyebab bergejolaknya adalah harga komoditas yang memang cenderung tinggi tetapi tidak berarti selalu tinggi.

"Harga natural gas itu semenjak bulan April hingga sekarang itu gejolaknya bisa naik turun yang sangat tajam bisa di atas sebulan kemudian turun di level 5 kemudian naik lagi di level 9. Cold selama ini tetap bertahan di 400 namun saat ini relatif agak menurun sedikit di bawah 400, ini juga tertinggi dalam sejarah harga cold di dunia, apalagi menjelang winter's," kata dia.

Untuk brent sempat menurun kemudian mengalami kenaikan, karena opec memutuskan untuk mengurangi produksinya 2 juta perhari. "Ini salah satunya topik yang juga dibahas di dalam g20 kemarin dampak dari keputusan OPEC akan semakin meningkatkan harga minyak dan memperburuk inflasi," terangnya.

Lebih lanjut, dia menekankan bahwa diprediksikan krisi pangan tahun depan mungkin akan jauh lebih berat yang dikarenakan oleh akses terhadap pupuk yang saat ini sangat terkendala dan akan mempengaruhi jumlah dari bahan pangan. kbc10

Bagikan artikel ini: