Suku bunga acuan ditaksir naik ke 5,5% hingga akhir tahun, ini alasannya

Rabu, 26 Oktober 2022 | 07:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: DBS Group Research memprediksi tingkat suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate akan parkir di level 5,5% atau menyiratkan kenaikan sebanyak 75 basis poin (bps) lagi di akhir tahun ini.

Dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (25/10/2022), DBS Group Research merespons langkah Bank Indonesia yang kembali menaikkan suku bunga 50 bps menjadi 4,75% pada pekan lalu. Sementara, inflasi masih menjadi kekhawatiran.

Besaran proyeksi kenaikan tingkat suku bunga tersebut didasarkan pada potensi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS yang juga sebesar 75 bps pada November mendatang. Bahkan, DBS Group Research memproyeksikan mata uang asia termasuk rupiah kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan hingga 2023.

Secara bersamaan, Operation Twist - kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga jangka panjang melalui pembelian obligasi jangka panjang (guna melandaikan kurva dan menurunkan biaya pinjaman) - serta menjual obligasi jangka pendek guna memulihkan perbedaan kebijakan dalam rangka menarik aliran dana asing, belum membuahkan hasil.

Bahkan, dengan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia berjangka waktu lima tahun masih bertengger di kisaran tertinggi dua setengah tahun, selisih dengan surat berharga pemerintah AS (UST) masih berada di sekitar 250-270 bp, terkecil dalam dua dasawarsa.

Mengingat ketidakpastian pada saat ini, investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi atau kembali ke investasi aman. Kepemilikan asing atas obligasi turun di bawah 15% pada bulan lalu jika dibandingkan dengan angka tertinggi sebesar 38% - 39%, yang dicapai pada tiga tahun lalu.

Di satu sisi, DBS Group Research menyoroti cadangan dan kecukupan devisa Indonesia menurun.

Cadangan devisa internasional Indonesia turun menjadi U$130.8 milyar pada September 2022, sekitar U$15 miliar lebih rendah daripada rekor tertinggi pada triwulan ketiga 2021 dan U$10 miliar lebih rendah sejak awal tahun ini. Itu antara lain akibat intervensi untuk mendukung mata uang serta pembayaran utang luar negeri.

Penggunaan devisa untuk membiayai impor juga turun ke setara impor 5,9 bulan dan 5,7 bulan dan pembayaran utang luar negeri, tetapi di atas minimum persyaratan global tiga bulan pembiayaan impor. Cadangan saat ini juga dua kali lipat dari utang luar negeri jangka pendek dengan sisa jatuh tempo.

Penurunan ini terjadi meskipun surplus barang sejak awal tahun ini menguat hampir U$40 miliar, dua kali lipat dari surplus tahun lalu, yang kemungkinan menjaga neraca berjalan tetap positif untuk tahun kedua berturut-turut. kbc10

Bagikan artikel ini: