Resesi hantui 2023, perbankan waspadai meningkatnya kredit bermasalah

Rabu, 26 Oktober 2022 | 09:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ancaman resesi global menjadi perhatian masyarakat. Selain dikhawatirkan berdampak pada pangan, resesi global juga dimungkinkan berpengaruh terhadap kredit. Untuk itu, perbankan mesti berhati-hati menjaga kinerja rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) hingga menyiapkan pencadangan yang besar.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan, tahun depan akan menjadi tahun yang berat, tidak hanya bagi perbankan tapi pelaku ekonomi secara keseluruhan. Saat resesi global, inflasi akan meninggi. Bagi sektor perbankan, ini dikhawatirkan akan membawa masalah pada kualitas kredit.

"Bagaimanapun bank mesti hati-hati di tengah terpaan resesi, NPL akan tinggi, bank juga harus siapkan CKPN [Cadangan Kerugian Penurunan Nilai] yang besar," ujarnya seperti dikutip, Selasa (25/10/2022).

Apalagi menurutnya, restrukturisasi keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan berhenti pada Maret 2022. Menurutnya, bagi bank pada kategori besar, kecukupan pencadangan masih aman. Namun, untuk kategori menengah dan kecil, dia bisa kena dampak signifikan kalau terjadi resesi global 2023.

Pengamat Ekonomi Perbankan dari Binus University, Doddy Ariefianto juga mengingatkan agar perbankan menyiapkan pencadangan yang cukup.

"Permodalan juga mesti disiapkan, kemudian dijaga likuiditasnya. Akan sangat mungkin terjadi tekanan-tekanan nilai tukar dan likuiditas saat resesi global. Upaya-upaya ini dilakukan dengan risk manajemen kredit," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, BCA sudah meramalkan resesi secara global akan terjadi pada 2023. Inflasi diperkirakan meninggi, diikuti dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Kondisi ini membuat biaya produksi, khususnya untuk bahan baku impor, meningkat.

"Kondisi-kondisi ini menyebabkan production cost pasti meningkat bagi para nasabah kami yang produsen," ujarnya beberapa waktu lalu.

Meski demikian, Jahja menyatakan perkiraan naiknya biaya produksi tidak serta-merta ditransformasikan pada harga jual mengingat daya beli masyarakat belum terlalu memadai bagi individu yang selama ini bekerja.

"Ini menyebabkan produsen tidak semena-mena bisa menaikkan harga begitu mudah. Apakah sedikit-sedikit dinaikkan atau ada yang belum berani menaikkan, tetapi ada juga yang mengubah ukuran packaging untuk mengompensasi kenaikan biaya. Itu yang bisa terjadi," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Nasional Indonesia Tbk. (BBNI) Royke Tumilaar juga mengatakan bahwa meskipun tren perlambatan ekonomi global cukup mengkhawatirkan, perekonomian Indonesia diperkirakan relatif stabil lantaran didukung bauran kebijakan fiskal dan moneter yang efektif untuk menjaga stabilitas.

Menurutnya, indikator kestabilan eksternal ekonomi Indonesia terus membaik, terutama dari cadangan devisa yang kuat serta tingkat eksposur utang luar negeri yang rendah.

"Tentu kami perlu mewaspadai potensi meningkatnya risiko yang akan dihadapi oleh perekonomian dan perbankan Indonesia ke depan. Untuk itu, perseroan mengambil langkah proaktif untuk menjaga profitabilitas dapat sustain dalam jangka panjang," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: