Duh! Tingkat kebocoran data di Indonesia nomor 8 dunia

Kamis, 27 Oktober 2022 | 11:06 WIB ET
Konsultan Cyber ESET, Yudhi Kukuh.
Konsultan Cyber ESET, Yudhi Kukuh.

JAKARTA, kabarbisnis.com: Insiden kebocoran data terjadi melibatkan berbagai platform industri dan jasa keuangan serta manufaktur serta berbagai aplikasi dilingkungan pemerintah yang mengelola data pribadi warganya marak terjadi. Peluang terjadi bukan hanya disebabkan murni kriminal namun juga kelalaian internal perusahaan.

"Mengutip sebuah riset, tingkat kebocoran data pribadi dan perusahaan di Indonesia menempati posisi delapan di dunia atau menempati urutan pertama di Asia Tenggara," ujar Yudhi Kukuh, Konsultan Cyber ESET kepada wartawan di sela National Cyber Security di Jakarta, Rabu (26/10/2022).

Bahkan data yang dirilis Verizon bahwa lebih dari 23 ribu insiden dan 5.200 pelanggaran yang dikonfirmasi terjadi di seluruh dunia. Kukuh menegaskan, makin tinggi tingkat ketergatungan terhadap teknologi digital, sudah sepantasnya keamanan data privasi menjadi perhatian publik.

Sejalan dengan diberlakukanya Undang Undang No. 27 Tahun 2022 Tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), terang Yudhi menjadikan payung hukum bagi negara mengatur keamanan data privasi. Selain itu bagi pemilik data harus menyiapkan diri mengadopsi teknologi keamanan siber untuk memitigasi resiko terjadinya kebocoran data.

"Jika pencurian data disebabkan laptop kita dicuri. Justru yang kita khawatirkan keamanan datanya. Bukan melulu persoalaan harga dari laptop kan," terang Yudhi mengilustrasikan.

ESET sendiri, sebut Yudhi, sejak penerapan General Data Protection Regulation (GDPR) sudah lama teruji di Uni Eropa. Yudhi meyakini  tiga teknologi keamanan data ini pun tentunya telah memenuhi standarisasi yang diminta UU PDP.

Teknologi pertama bernama enskirpsi grade mililter yang sudah memenuhi standar FIPS 140-2 yang divalidasi enskripsi AES 256. Dengan Endpoint Encryption memiliki siklus penerapan yang singkat dan mudah penggunaannya.

Cakupan perlindungan data meliputi enskripsi file, enskrispi folder dan enskripsi full disk. Adapun layanan perlindungan data melalui teknologi enskripsi, aku Kukuh, menjadi pilihan utama masyarakat dan korporasi.

"Lebih dari 50% merupakan industri manufaktur. Bisa jadi karena hak paten. Mencakup data rancang bangun yang membutuhkan formula yang harus dirahasiakan. Untuk segmen ritel bisa UMKM juga pribadi yang bekerja di rumah namun menginginkan datanya terlindungi," terangnya.

Selain teknologi keamanan siber diatas, konsumen menjatuhkan pilihannya kepada Data Leak Prevention (DLP). Pointnya adalah mitigasi penguncian data sehingga tidak bocor kepada pihak yang tidak berwenang. Penerapan LDP membutukan pemeliharaan rutin, dengan begitu resiko kebocoran data mampu dimitigasi secara maksimal.

"Kalau teknologi keamanan data DLP lebih banyak diadopsi industri jasa keuangan. Teknologi keamanan data melalui enskripsi lebih banyak digunakan sektor  industri manufaktur. Ini terkait dengan rancang bangun berikutnya formula yang harus dirahasiakan," erangnya.

Ketiga adalah teknologi keamanan data otentifikasi semua aplikasi. Menurutnya kata sandi lebih mudah diretas karena penggunaan password yang buruk atau faktor human error. Dengan  otentifikasi multifaktor, menawarkan control yang kuat ketika sandi disusupi.

Validasi setiap melakukan login menggunakan verifikasi ganda berupa sandi pengguna dan On Time Password. Hal ini mudah diimplementasikan di smart phone. Keamanan data dapat dilakukan secara feksibel, mudah pengelolaannya dan efisien.kbc11

Bagikan artikel ini: