Salut! UMKM di Surabaya ini berdayakan 13 penyandang disabilitas

Rabu, 2 November 2022 | 07:38 WIB ET
Didampingi orang tuanya, pekerja Arsyadina mendapatkan seragam dan surat kontrak.
Didampingi orang tuanya, pekerja Arsyadina mendapatkan seragam dan surat kontrak.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Sebagian orang beranggapan bahwa kaum disabilitas tak mampu berkarya. Padahal mereka memiliki kemampuan yang sama dengan orang lain, yang jika dikembangkan akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Anggapan ini pula yang diubah M. Arif Sayfuddin, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di bidang konveksi, Arsyadina.

Terbukti, ada sebanyak 13 penyandang disabilitas resmi menandatangani kontrak kerja di workshop Arsyadina di Jalan Simo Sidomulyo V Nomor 5, Surabaya, pada Selasa (1/11/2022).

Ke-13 penyandang disabilitas ini sebelumnya menjalani masa training atau magang selama hampir dua bulan. Dalam proses itu, Arsyadina dibantu dua orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan mereka saat bekerja.

"Karena terbukti sudah bisa menjalankan pekerjaan yang instruksi, akhirnya kita kontrak mereka selama setahun," kata M. Arif Sayfuddin.

Selain meneken surat kontrak kerja, para penyandang disabilitas juga menerima buku tabungan Bank BRI, berikut seperangkat seragam kerja berupa kemeja dan kaus.

Arief menceritakan, ke-13 penyandang disabilitas tersebut sebelumnya melamar di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Surabaya. Oleh Disnaker kemudian disalurkan ke beberapa perusahaan dan pelaku usaha yang membutuhkan, salah satunya Arsyadina.

Dia bilang, ada 26 orang bekerja di Arsyadina, dimana 13 orang di antaranya penyandang disabilitas. "Ada 8 orang lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) Karya Mulia Surabaya. Lima orang lainnya berasal dari SLB lain," terang pria kelahiran Surabaya, 25 Januari 1989 ini.

Para penyandang disabilitas itu, imbuh Arif, ditempatkan di divisi sesuai ketrampilan yang dimiliki. Ada yang ditempatkan bagian memotong, menjahit, dan cleaning service.

Arsyadina didirikan oleh pasangan suami istri M. Arif Sayfuddin dan Muta'alliqu Rusydina. Mereka mulai merintis usaha sejak tahun 2012.

"Dulu, kami CMT atau orang biasa menyebut maklun. Hanya memotong bahan hingga siap dijahit. Termasuk pengukuran kain serta pemberian nomor," terang Arif.

Awal merintis bisnis konveksi, Arif bersama istrinya keliling menawarkan jasa ke teman-temannya. Juga beberapa orang yang dikenal. Dia sengaja tidak memasang iklan karena dinilai biayanya mahal.

"Tahun 2013, kami mendapatkan order mengerjakan produk fashion beberapa brand-brand ternama," kata Muta'alliqu Rusydina.

Ketika terjadi pandemi Covid-19, Arsyadina sempat mengerjakan hazmart dan masker pesanan Pemerintah Kota Surabaya dan beberapa perusahaan swasta di Surabaya.

"Jumlahnya cukup banyak. Ribuan per minggunya. Yang jadi tantangan harus deadline-nya mepet-mepet. Alhmadulillah, kami bisa memenuhi," tutur Mita, panggilan akrab Muta'alliqu Rusydina.

Mita menambahkan, pihaknya tidak mengalami hambatan besar dalam memekerjakan para penyandang disabilitas. Karena mereka punya semangat dan kemauan keras untuk bekerja. Apalagi kalau ada hal-hal baru yang sebelumnya belum mereka ketahui.

"Saya senang mereka kerasan, kami seperti keluarga baru," ungkap Mita.

Hingga kini, Arsyadina mengerjakan baju dan seragam dari beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) di Pemerintah Kota Surabaya, antara Dinas Perdagangan, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata, Dinas Kesehatan dan PDAM Surya Sembada. Juga ada beberapa order perusahaan swasta dan BUMN, salah satunya PT Telkom. kbc10

Bagikan artikel ini: