Pemerintah masih tahan suku bunga KUR meski BI rate naik

Kamis, 10 November 2022 | 11:10 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah masih mempertahankan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR), meski suku bunga acuan Bank Indonesia terus mendaki hingga level 4,75%.

Sebenarnya pemerintah sudah beberapa kali memberi subsidi bunga, terakhir pemerintah menetapkan bunga KUR 6% pada 2020.

Padahal, sebelumnya bunga KUR bertengger di level 7%. Guna memacu pertumbuhan ekonomi, pemerintah kembali menambah subsidi bunga sehingga bunga KUR yang berlaku sampai akhir 2022 sebesar 3%. Maka tidak ada lagi tambahan plafon KUR tahun ini.

"Untuk sementara belum ada kebijakan untuk melakukan perubahan tingkat suku bunga KUR," ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso seperti dikutip, Rabu (9/11/2022).

Artinya, suku bunga 3% masih akan diterapkan sampai akhir tahun. Namun sampai saat ini, pemerintah belum menentukan suku bunga KUR untuk tahun depan.

Dia menyatakan, penyaluran KUR terus meningkat dengan kualitas kredit yang terkendali. Adapun realisasi KUR tembus mencapai Rp 299,64 triliun yang dinikmati oleh 6,26 juta debitur per 31 Oktober 2022.

"Realisasi itu mencapai 80,30% dari target penyaluran KUR 2022 mencapai Rp 373,17 triliun. Sedangkan total outstanding KUR mencapai Rp 450 triliun yang diberikan kepada 38,42 debitur dengan rasio non performing loan (NLP) di posisi 1,27%," paparnya.

Lebih rinci, penyaluran KUR mikro mendominasi dengan kontribusi 65,90% atau sebesar Rp 197,47 triliun kepada 5,26 juta debitur. Lalu KUR kecil menyumbang 32,32% atau sebanyak Rp 96,84 triliun kepada 391.026 debitur.

Sedangkan KUR super mikro sebanyak Rp 5,30 triliun kepada 602.554 juta debitur. Lalu, KUR untuk pekerja migran Indonesia sebanyak Rp 21,69 miliar kepada 889 debitur.

Sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Perseroan) Tbk menyatakan hanya berperan sebagai bank penyalur dalam program KUR. Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto menyebut oleh sebab itu, penetapan suku bunga KUR sepenuhnya menjadi kewenangan dari pemerintah.

"Hingga akhir Oktober 2022, BRI telah berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp 206,56 triliun atau setara 81,29% dari target penyaluran KUR BRI yang di-breakdown oleh Pemerintah untuk tahun 2022 senilai total Rp 254,1 triliun," ujar Aestika.

Dia bilang, mayoritas penyaluran KUR BRI disalurkan pada sektor produksi hingga saat ini. Penyaluran KUR BRI pada Sektor Produksi tercatat sebesar 58,10% per Oktober 2022.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, realisasi KUR Bank Mandiri mencapai Rp 31,3 triliun sampai dengan September 2022.

Adapun Wakil Direktur Utama BNI, Adi Sulistyowati menyatakan pertumbuhan KUR yang naik 24,3% yoy menjadi Rp 51,3 triliun per September 2022.

Sementaa Bank Jatim berhasil menyalurkan kredit ke sektor UMKM sebesar Rp 5,72 triliun per kuartal ketiga 2022. Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman menyebut, nilai itu tumbuh 19,07% yoy dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,8 triliun.

Hal ini ditopang oleh penyaluran KUR yang tumbuh signifikan dari Rp 284 miliar di September 2021 menjadi Rp 2,01 triliun di September 2022. Selain dari KUR, Bank Jatim memacu kredit UMKM melalui produk Jatim Ritel dan Jatim Mikro.

"Meskipun pertumbuhan kredit UMKM cukup tinggi 19% yoy, namun secara nominal masih relatif kecil. Persoalan selama ini ada pada marketing, ini sudah kami siapkan untuk mengoptimalkan kredit UMKM," ujar Busrul.

Dia menyatakan, bank daerah tidak bisa lagi hanya bertumpu pada kredit berbasis payroll yang menjadi andalan. Lantaran selama Covid-19, anggaran belanja pemerintah fokus untuk penanganan Covid-19. Saat Covid-19.

"Tahun depan akan fokus di IKN. sehingga BPD yang kuat di payroll base, kami harus bergeser ke sektor produktif. Sehingga ke depannya, bank jatim bisa tumbuh dengan baik di sektor ini," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: