Top! Kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional tembus 60,51%

Minggu, 13 November 2022 | 15:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia. Program restrukturisasi kredit oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diberlakukan selama pandemi Covid-19 telah mempercepat pemulihan ekonomi dan memberikan ruang gerak bagi perbankan dan debitur terdampak pandemi, terutama UMKM.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan dan UMKM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin mengatakan UMKM adalah motor penggerak atau critical engine bagi perekonomian Indonesia.Mengutip, data Kementerian Koperasi dan UKM Rudy mengatakan saat ini ada 64,2 juta UMKM tercatat di Indonesia atau 99% dari keseluruhan unit usaha.

"Program restrukturisasi kredit dapat menjaga kelangsungan UMKM. Momentum pertumbuhan ekonomi telah berjalan dengan baik," kata Rudy di Jakarta, Minggu (13/11/2022).

Kontribusi UMKM terhadap PDB, sambung dia, mencapai  60,51% atau senilai Rp 9.580 triliun.UMKM menyerap 120,59 juta tenaga kerja, nilai investasi 60,42% dari total investasi, mengisi 15,65% ekspor non-migas, serta 24% pelaku UMKM telah memanfaatkan e-commerce. Namun, jelasnya, akibat pandemi Covid-19, sebanyak 19,45% UMKM menghadapi kesulitan modal, sekitar 18,87% produksi terhambat, 23,10% membukukan penurunan penjualan, 19,08% kesulitan bahan baku, dan sebanyak 19,50%n terhambat distribusi.

Untuk keluar dari persoalan itu, ujarnya, dari total UMKM di Indonesia, sebanyak 29,98% telah menggunakan fasilitas relaksasi atau penundaan pembayaran kredit. Sekitar 17,21% memanfaatkan fasilitas kemudahan administrasi untuk pengajuan pinjaman. Selain itu, sejak pandemi sekitar 69,02 % UMKM telah mendapatkan bantuan modal usaha, sebanyak 41,18% mendapatkan keringanan tagihan listrik untuk usaha, serta 15,07% UMKM menunda pembayaran pajak.

"Dengan dukungan regulasi dan kemampuan UMKM keluar dari krisis, sebanyak 84,8% UMKM sudah kembali beroperasi normal dibandingkan pada tahun 2020," terangnya.

Seperti diketahui, restrukturisasi kredit dan pembiayaan diberlakukan sejak Maret 2020 melalui POJK Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-2019.Kemudian, diperpanjang hingga Maret 2022, dengan penerbitan POJK Nomor 48/POJK.03/2020 tentang Perubahan Atas POJK Nomor 11/POJK.03/2020.

Rudy menyebutkan, outstanding restrukturisasi kredit per September 2022 telah mencapai Rp 519,64 triliun.Angka ini berkurang sebesar Rp 23,81 triliun dari bulan sebelumnya.

Sedangkan, penerima restrukturisasi kredit per September 2022 mencapai 2,63 juta nasabah, turun dari bulan sebelumnya yang sebanyak 2,75 juta nasabah. "Dengan adanya program restrukturisasi, penyaluran kredit ke UMKM terus meningkat menjadi Rp 1.275,03 triliun atau tumbuh 16,75% (yoy). Tingkat NPL terjaga, yaitu pada April 2022 di level 4,38%. Lebih rendah dibandingkan April 2021 di posisi 4,41%," paparnya.

Dengan dukungan kelangsungan UMKM, ujarnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatatkan kinerja positif.Ekonomi tumbuh impresif, yaitu sebesar 5,72%  (yoy) pada kuartal III/2022. Neraca perdagangan terus mencatatkan kinerja positif.kbc11

Bagikan artikel ini: