Dorong ekosistem ekspor berkelanjutan, LPEI kembangkan Desa Devisa Klaster Udang di Situbondo

Rabu, 7 Desember 2022 | 17:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/ Indonesia Eximbank sebagai Special Mission Vehicle Kementerian Keuangan berupaya mengembangkan ekosistem ekspor yang berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan ekspor nasional.

LPEI melakukan berbagai upaya melalui program-programnya, salah satunya dengan meresmikan Desa Devisa Klaster Udang di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (Jatim) pada 15 Juli 2022 lalu. Adapun daerah tersebut merupakan salah satu wilayah penghasil udang di Jawa Timur yang memiliki potensi dikembangkan menjadi komoditas unggulan ekspor terutama udang Vaname.

Data Indonesia Eximbank Institute LPEI ekspor udang dan olahannya naik 17,56% atau US$1,27 miliar selama Januari hingga Mei 2022. Adapun negara tujuan ekspor utama antara lain Amerika Serikat, China, Jepang, Vietnam dan Thailand.

Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) yang tergabung di dalamnya sebanyak sekitar 20 petambak udang yang tersebar di empat kecamatan dan enam desa di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Sebagai tindak lanjut dari komitmennya, LPEI memberikan alat produksi berupa kincir air kepada petambak sebagai wujud pendampingan dari aspek produksi dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi Desa Devisa Klaster Udang.

Adapun alat produksi yang diberikan LPEI berjumlah 10 unit dengan penerima manfaat sebanyak 80 petambak.Kegiatan ini dihadiri secara fisik oleh Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Situbondo beserta perwakilan Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Multi Fishes Bahari dan Alkautsar Bugeman Makmur.

"Kincir air yang diberikan berfungsi untuk meningkatkan kapasitas produksi petambak dengan mengurangi potensi gagal panen udang karena jika satu kincir air rusak akan terdapat kincir air lainnya sebagai back-up, sehingga sirkulasi oksigen dalam tambak masih terjaga," ujar Kepala Divisi Jasa Konsultasi Gerald Grisanto, Rabu (7/12/2022).

Dia melanjutkan, pemberian kincir air, survival rate (SR) udang dapat meningkat menjadi 80 - 90 persen dari sebelumnya kisaran 70 - 80 persen. Harapannya, kapasitas produksi udang dapat meningkat sebesar 30 persen menjadi 40 - 60 ton dalam setiap siklus produksi.

Ke depannya, LPEI akan terus melakukan monitoring bersama PT Panca Mitra Multi Perdana sebagai mitra bisnis para petambak udang atas pendampingan Desa Devisa Klaster Udang yang telah dilakukan.Sebagai wujud dukungan untuk mengukuhkan ekspor nasional, LPEI akan giat memberikan pendampingan secara berkesinambungan melalui program Desa Devisa pada daerah dengan komoditas potensi ekspor.

"Hal ini kami lakukan untuk menciptakan kepastian hasil panen tambak serta mengembangkan kapasitas dan daya saing produk," kata dia.

Adapun program Desa Devisa merupakan salah satu program pelatihan LPEI yang diberikan kepada klaster penghasil komoditas unggulan yang memiliki potensi ekspor. Tujuan Desa Devisa untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas serta daya saing komoditas yang sesuai dengan standar ekspor dan dapat memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat sekitarnya.kbc11

Bagikan artikel ini: