Inovasi produk berorientasi pasar jaga kesinambungan ekspor udang RI

Kamis, 2 Februari 2023 | 14:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Dunia usaha meyakini resesi ekonomi global di tahun 2023 tidak berdampak besar terhadap kinerja ekspor udang sebagai komoditas primadona ekspor kelautan dan perikanan nasional. Meski begitu, perlu dipersiapkan inovasi, peningkatan produk udang bernilai tambah, diverfikasi pasar juga mitigasi perbaikan sarana tambak.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP51) Budi Wibowo menuturkan, tren ekspor udang menunjukkan pertumbuhan positif sejak tahun 2015. Puncaknya di tahun 2021, yang mencapai 250.000 metrik ton dengan nilai US$2,25 miliar.

"Namun di tahun 2021,mengalami koreksi menjadi US$2,15 miliar dengan volume 241,000 metrik ton atau turun 4%. Penurunan ini disebabkan banyak terjadinya penyakit dan turunnya permintaan terutama di Amerika Serikat (AS) akibat dampak Covid 19. Kita berharap tahun ini kinerja ekspor  mengalami peningkatan," ujar Budi dalam webinar Potret Bisnis Udang Indonesia 2023 yang diselanggarakan Majalah Agrina, baru-baru ini,

AS, sambung Budi merupakan pasar utama (70%) ekspor komoditas udang Indonesia.Dengan nilai ekspor sebesar US$1,42 miliar. Pasokan udang ke AS mulai tersisih beberapa tahun terakhir, setelah Ekuador berhasil memasarkan udang dengan harga yang jauh lebih murah namun kualitas yang jauh lebih baik. "Posisi Indonesia dari rangking nomer dua dibawah India,menjadi turun di nomer tiga. Ekuador menyalip posisi Indonesia sejak dua tahun terakhir," kata Budi.

Posisi Indonesia sebagai produsen udang hanya menempati rangking delapan besar dari total nilai perdagangan udang di pasar dunia yang mencapai US$27 miliar. Tahun 2022, rangking Indonesia turun menjadi di posisi delapan besar dengan total volume pasar udang dunia sebesar 5 juta ton.

Menurut Budi, posisi tersebut menyebabkan harga udang Indonesia mengikuti pasar dunia yang terus berfluktuasi. Bertambah masalah ketika harga udang Indonesia di pasar Amerika mencapai US$1 per kilogram, padahal udang asal India dijual tidak lebih US$0,5 sen. "Survival rate udang di Asia rendah," kata Budi.

Resilensi usaha harus terus diupayakan agar Indonesia tidak sedemikian rupa agar Indonesia tetap eksis memasok udang ke pasar AS. Budi pun melihat, pelaku usaha dan eksportir dituntut berinovasi dan adaptasi terhadap perubahan. Pihaknya meminta eksportir yang berada dalam organisasinya langsung terfokus ke pasar ritel melalui penjualan online atau konsumen akhir.

Salah satu strategi pemasarannya dengan membuat produk udang bernilai tambah siap saji dan siap masak. "Permintaannya (produk olahan, red) meningkat pesat. Karena ada perubahan gaya hidup.Wanita banyak bekerja dan malas masak. Harga lebih murah dari restoran. Tapi banyak dicari orang. Kami sebetulnya mampu memproduksi udang olahan," kata Budi.

Namun apabila ditilik di pasar global yang lebih luas, Budi mengakui, Indonesia tertinggal dengan Thailand yang sudah lebih dulu dan dapat  menyajikan produk olahan udang disertai berbagai macam rasa/bumbu. "Sebagian produsen di Indonesia juga sudah mampu," kata dia.

Strategi pemasaran lainnya yang patut dilakukan Unit Pengolahan Ikan (UPI) yakni dengan memperbanyak sertifikasi yang dibutuhkan di pasar global , mengembangkan branding Indonesia Shrimp dan pengembangan pasar baru. Pasar tradisional lainnya seperti Jepang dan Uni Eropa relatif stagnan, meski begitu memasarkan produk udang olahan tetap terbuka.

Budi melihat China sangat potensial menjadi destinasi ekspor udang.terbesar di tahun 2025. Bahkan dapat mengalahkan ke AS. Setidaknya dibutuhkan impor udang mencapai 1 juta ton.

"Tahun 2021,dari total permintaaan 700.000 metrik ton,ekspor udang Indonesia tercatat 6.000 ton. Tapi di tahun 2022 meningkat pesat menjadi 18.000 ton. Tantangannya, di China meminta udang dengan kulit dengan dan tanpa kepala yang saat ini harganya kalah dengan Ekuador. Karenanya kita harus fokus memperbanyak pasar di China dengan permintaan yang berbeda," terangnya.

Mengutip studi blue wave consultant, pertumbuhan konsumsi udang global per tahun dapat menembus 10% yang juga meningkatan peluang petambak dan eksportir makin terbuka. Tahun 2028, diprediksi total nilai perdagangan udang global mencapai US$75 miliar, dibandingkan dengan torehan tahun 2023 yang sebesar US$30 miliar.

Optimisme Budi pun merujuk laporan pertumbuhan kuartal III tahun 2022 di AS seperti dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa ancaman resesi ekonomi global tidak seburuk yang diduga sebelumnya.

Adapun di pasar domestik, ketimbang mengkonsumsi udang dalam bentuk segar sebaiknya dunia usaha mengolah menjadi udang beku yang daya tahannya mebihi dua tahun apabila disimpan di cold storage. Dengan begitu,konsumsi udang per kapita mampu ditingkatkan per kapita menjadi 1 kilogram per tahun.

"Promosi perlu digencarkan melalui pembuatan content video bahwa memakan udang sehat dan murah dibandingkan harga daging sapi," terangnya.

Sekjen Forum Udang Indonesia (FUI) Coco Korkain juga sependapat meyakini resesi ekonomi global tidak menyurutkan orang terhadap rasa udang. Karena itu dibutuhkan inovasi memproduksi udang dengan harrga relatif murah.

Salah satu caranya, petambak dapat memproduksi udang windu berkururan kecil yang diolah secara hygenis untuk dipasok industri pengeolahan. "Saya sudah memiliki kontrak memasok ke Jepang selama 21 tahun," terangnya.

Pasarnya sangat dibutuhkan untuk kudapan seperti koktail, nuget juga masakan nasi goreng. Berkaca dengan keberhasilan Equador membangun industri akuakultur komoditas udang kelas dunia, Indonesia harus terlebih dahulu membenahi dari usaha budidaya, manajemen dan perbaikan saluran serta irigasi tambak. Selain itu petambak wajib memiliki pengetahuan genetik yang sesuai lingkungan dan kapasitas sarana.

Kemudian pengetahuan terhadap penyakit akibat stres, fluktuasi Ph, suksesi mikrobiologis, asal epidemi yang ditemukan pada banyak media.Selain itu langkah flow biosekuriti. "Para peetambak harus melek teknologi dan produknya harus tersertifikasi sehingga berdaya saing mampu menembus pasar ekspor," terangnya.kbc11

Bagikan artikel ini: