Kenaikan harga BBM bikin pelemahan daya beli masyarakat

Rabu, 8 Februari 2023 | 05:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu pemicu lemahnya daya beli masyarakat pada tahun 2022.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai, porsi secara nominal konsumsi rumah tangga pada kuartal IV/2022 mengalami kenaikan,namun andilnya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 terus menurun. Menurutnya, penurunan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi akibat sebagian besar pendapatan masyarakat dibelanjakan untuk barang habis pakai, contohnya makanan dan minuman.

"Artinya daya beli masyarakat kita itu sebenarnya rendah karena hampir semua income yang diperoleh itu digunakan untuk beli makanan,misalnya, untuk beli perlengkapan rumah tangga," ungkapnya dalam keterangan pers secara virtual, Jakarta, Selasa (7/2/2023).

Esther memaparkan data yang mengacu pada Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga pada kuartal IV/2022 mencapai Rp 2.641 triliun terhadap PDB atau tumbuh 4,48% (year-on-year/yoy). Adapun, secara persentase kontribusi pengeluaran konsumsi rumah tangga menurun bila dibandingkan dengan kuartal IV/2021 yang mencapai 52,9% terhadap PDB, sementara pada kuartal IV/2022 hanya 51,7%.

Esther menambahkan, hanya sedikit pendapatan masyarakat yang digunakan untuk keperluan kesehatan dan pendidikan, atau sekitar 6,89% dari total pengeluaran konsumsi rumah tangga. Lebih lanjut, pengeluaran tertinggi mencakup makanan dan minuman selain restoran mencapai 40,32% atau setara Rp1.065 triliun.

"Sangat sedikit yang diinvestasikan untuk pendidikan. Bahkan karena adanya kenaikan harga BBM ini membuat pengeluaran masyarakat untuk transportasi dan komunikasi itu juga meningkat jadi sekitar 22% [kuartal IV/2022]," lanjutnya.

Untuk itu, Esther meminta pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat, namun tidak hanya melalui bantuan sosial, melainkan juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). "Pemerintah harus meningkatkan daya beli masyarakat yang rendah. Carannya insentif, tidak hanya bansos yang temporer, solusi yang sustain, dengan memberikan upskilling sehingga dia bisa memperoleh pekerjaan lebih baik, pendapatan lebih baik," sambung Esther.

Jika menelisik data inflasi antara kuartal IV/2021 dengan periode yang sama pada 2022, meningkatnya konsumsi rumah tangga diikuti dengan inflasi yang terus merangkak naik. Pada kuartal IV/2021 inflasi hanya berkisar di rentang 1,66-1,87%, sementara pada kuartal IV/2022 tertahan di atas 5%.

Adapun, secara historis pada Januari 2022 inflasi mulai pada level 2 persenan. Memasuki April 2022 inflasi naik menuju angka 3,47% dan terus bergerak naik menuju sekitar level 4% pada mulai Juni 2022.

Setelah pemerintah menaikkan harga BBM pada September 2022, inflasi kembali mencapai puncaknya pada tahun tersebut sebesar 5,95% dan selanjutnya hingga akhir tahun tertahan di atas 5%. kbc11

Bagikan artikel ini: