Tekanan inflasi diramal menguat jelang Ramadan dan Lebaran, ini pemicunya

Kamis, 2 Maret 2023 | 08:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi laju inflasi bakal terus meningkat pada momen Ramadan-Lebaran tahun ini.

Wakil Ketua Kadin Indonesia Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani menjelaskan, pada periode Ramadan-Lebaran dari sisi permintaaan akan cenderung lebih tinggi karena dorongan pasar yang masih sangat kondusif.

Selain itu, impor pun akan naik untuk mengompensasi produksi pangan domestik yang lebih rendah dari perkiraan karena intervensi faktor bencana alam seperti banjir dan curah hujan tinggi dan diperparah dengan pelemahan nilai tukar.

"Potensi inflasi juga bisa didorong pelaku usaha yang menaikkan harga jual karena kenaikan beban produksi yang disebabkan oleh impor bahan baku, pelemahan rupiah, dan efek kumulatif inflasi pada periode-periode sebelumnya," ujar Shinta dikutip, Rabu (1/3/2023).

Meski demikian, Shinta menilai kendali inflasi pemerintah masih cukup baik di tengah proyeksi hasil panen domestik, tren penurunan harga komoditas global khususnya untuk energi, hingga kondisi penguatan nilai tukar hingga akhir Januari 2023.

Padahal, pada saat yang sama di sisi suplai, pelaku usaha justru lebih berhati-hati melakukan ekspansi produksi karena tren suku bunga dan beban impor input produksi yang masih tinggi.

Menurut Shinta, hal tersebut tertolong dengan konsumsi pasar masih tinggi dan daya beli masyarakat yang masih cukup stabil. "Jadi sangat logis bila output kenaikan inflasi di Februari kembali meningkat seperti yang disampaikan BPS," ungkapnya.

Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Februari 2023 sebesar 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan sebesar 0,16 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Lebih lanjut, Shinta berpandangan bahwa kenaikan suku bunga acuan tidak serta merta berdampak terhadap inflasi. "Ini karena untuk pelaku usaha yang dilihat ketika melakukan koreksi harga jual pasar sebagai kontributor langsung inflasi domestik adalah agregat beban produksi [meningkat atau tidak] dan proyeksi daya beli serta appetite konsumsi pasar," tuturnya.

Karena itu, menurut Shinta, terkadang pelaku usaha bisa menahan kenaikan harga meskipun terjadi kenaikan suku bunga atau faktor beban produksi lain daya beli pasar sangat rendah seperti yang terjadi pada masa pandemi.

"Ketika demand dan apetite konsumsi pasar kembali atau cenderung sangat kuat, pelaku usaha baru akan melakukan penyesuaian harga jual karena risiko perusahaan untuk mengalami penurunan penjualan. Ketika terjadi menaikkan harga jual pasar pada saat demand pasar sangat sehat akan jauh lebih sedikit daripada ketika demand pasar sedang melemah atau stagnan," tandas Shinta. kbc10

Bagikan artikel ini: