Sinar Mas alokasikan 65 ribu ton DMO untuk Minyakita

Minggu, 5 Maret 2023 | 18:04 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah berupaya meningkatkan stok minyak goreng kemasan sederhana berlabel Minyakita guna memperluas akses bagi masyarkat memperoleh harga Rp 14.000 per liter. Caranya dengan menggandeng produsen dan distributor minyak goreng guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan Hari Raya Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN).

Atas hal itu, PT Sinar Mas Agribusiness dan Food menyiapkan alokasi Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita sebesar 65.000 ton per bulan.

General Manager Refinery Marunda Sinar Mas Agus Wijaya menuturkan, alokasi sebesar ini meningkat dari tahun 2022 yakni sebesar 35.000 ton.

Agus mengatakan, peningkatan volume Minyakita disebabkan beralihnya pola konsumsi masyarakat yang sebelumnya menggunakan minyak premium seperti merk Bimoli, Sania dan Filma.

Menurut Agus, sedianya kontribusi produk Sinar Mas sebesar 20% pasar minyak goreng nasional,namun tergerus tinggal 5% saja. "Harusnya menggantikan minyak goreng curah. Orang menganggap jenis minyak goreng tidak jauh berbeda," terang Agus menjawab kabarbisnis.com, dalam media gathering Forwatan, baru-baru ini.

Agus mengakui, harga pokok produksi Minyakita sudah mencapai Rp 16.000 per liter, tidak jauh berbeda dengan harga minyak goreng premium. Namun pemerintah 'memaksa' para produsen sebesar Rp 14.000 per liter.

"Tentunya kita menjual di bawahnya. Karena harus memperhitungkan margin Distributor (DI) dan Pengecer (D2). Kalau lokasi pemasarannya ke Kalimantan atau Sulawesi, mata rantainya akan lebih panjang," ujar Agus.

Agus menambahkan, secara kalkulkasi bisnis, memasok Minyakita tidak lagi ekonomis. Namun, pemerintah menawarkan insentif tiket ekspor. "Kami berkomitmen memenuhi kewajiban penyediaan MinyaKita sebagai syarat untuk bisa melakukan ekspor minyak sawit," kata Agus.

Sebagaimana diketahui, kebijakan DMO yang berlaku saat ini adalah menggunakan sistem rasio 1:6. Agus mencontohkan, jika pelaku usaha memasok CPO sebanyak 1.000 ton ke dalam negeri, akan memperoleh hak ekspor sebesar 6.000 ton.

Sedangkan jika pelaku usaha menyiapkan dalam kemasan, kuota hak ekspor dikali 1,5 atau sembilan kali dari volume DMO. Artinya dengan menyediakan 65.000 ton MinyaKita, maka hak ekspor Sinarmas sebesar 585.000 ton per bulan.

Sebagai informasi, Kementerian Perdagangan telah menaikkan kewajiban DMO 50% per bulan hingga April 2023 sebesar 450.000 ton dari sebelumnya 300.000 ton per bulan. Ini dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan HBKN.

Satgas Pangan Polri pun mengawasi alur distribusi penyaluran stok hasil kebijakan DMO. Data ini dipantau dalam aplikasi Simirah dari produsen hingga pengecer.

Sinar Mas, kata Agus, memproduksi minyak sawit sebesar 2,5 juta ton. Padahal kapasitas kilang sebesar 5,5 juta ton per tahunnya. Utilisasi sudah 80-90%. Sisa dari bahan baku minyak sawit sebesar 3,5 juta ton lagi dibeli perusahaan di sejumlah pabrik kelapa sawit yang memiliki sertifikasi yang dipersyaratkan di Kalimantan dan Sumatera. Total produksi crude palm oil (minyak sawit mentah) nasional tahun 2022 mencapai 48 jut ton.

Saat ini, Sinar Mas memiliki enam pabrik pengolahan minyak sawit yang tersebar di berbagai kota. Selain di Jakarta, Sinarmas juga memiliki pabrik pengolahan di Surabaya, Jawa Timur. Bukan hanya mengolah untuk produk pangan, kilang minyak sawit Sinarmas juga memproduksi biodiesel.kbc11

Bagikan artikel ini: