Covid-19 usai, kawasan industri bakal lebih dinamis gaet investor

Selasa, 2 Mei 2023 | 13:13 WIB ET
CEO PT Provalindo Nusa Chandra Rambey (kiri)
CEO PT Provalindo Nusa Chandra Rambey (kiri)

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bisnis properti khususnya kawasan industri memiliki prospek yang lebih menjanjikan. Pasalnya, permintaan penjualan lahan tetap terjaga meski Covid-19 menghantam semua lini sektor ekonomi.

CEO PT Provalindo Nusa Chandra Rambey menuturkan, dibandingkan properti residensial dan perkantoran, kawasan industri menjadi paling atraktif dan dinamis menjaring investor. Momentum ini setelah pemerintah mencabut kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akhir tahun 2022.

Provalindo merupakan perusahaan di bidang jasa konsultasi bisnis yang didominasi sektor properti. Menurut Chandra, kawasan industri cenderung memiliki outlook lebih stabil mengingat sebagai perannya sebagai fasilitas produksi dan logistik tetap harus beroperasi.

Meskipun mengalami perlambatan di beberapa bidang industri. Kendati membutuhkan investasi besar dan waktu cukup panjang, namun pemerintah terus mendorong dan mengembangkan kawasan industri yang dikategorikan sebagai proyek strategis nasional.

"Jawa Tengah yakni kawasan industri di Kendal merupakan yang paling menarik karena sebelumnya sudah beroperasional Pelabuhan Patimban dan didukungnya jalan tol," ujar Chandra yang juga Wakil Ketua Kompartemen Hubungan Antar Lembaga BUMN Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dalam sebuah seminar belum lama ini.

Chandra menambahkan, pengembangan kawasan industri melalui dua pendekatan pertama pasar (konsumen) dan kedua  adalah material atau bahan baku sumber daya alam. Seperti halnya di Sumatera, pengembangan kawasan industri berbasis komoditas minyak kelapa sawit dan produk turunannya, di Sei Mangkei, Sumatera Utara.

Sementara Kawasan Industri di Jawa Tengah bertumbuh karena ditopang oleh industi padat karya dengan perhitungan UMP yang lebih kompetitif dengan provinsi lainnya. Hingga tahun 2019, total pasokan kawasan industri di Indonesia berjumlah 103 kawasan dengan luas 55.181 hektare (Ha), dengan porsi 64,1% di Jawa.

Sesuai RPJMN 2020-2024, pengembangan Kawasan Industri juga didorong di luar Jawa. Saat ini terdapat usulan 14 Kawasan Industri di Pulau Sumatera, 6 di Kalimantan dan 7 tersebar di Jawa, Sulawesi, Maluku, NTB dan Papua.

"Tantangan utama mengembangan Kawasan Industri ada di tataran regional.Vietnam berani menawarkan harga lahan yang jauh lebih murah," terangnya.

Pembangunan kawasan industri diharapkan akan menimbulkan efek domino mendorong pertumbuhan ekonomi di lingkungan sekitar. Selain industri di bidang logistik dan database, supporting industri komponen industri motor dan listrik masih menjadi penyerap lahan industri di tahun 2023. Seperti di kawasan industri di Batam yang baru baru ini diresmikan Presiden Joko Widodo.

Mengutip riset Colliers tahun 2022, penjualan lahan di Kawasan Industri terbesar diisi tenant yang bergerak di bidang data center mengambil porsi terbesar yakni sebesar 40%, logistik 17%, kimia dasar  dan otomotif masing masing 7%. Kemudian industri pangan 2%, material bangunan dan teknologi 1%.

Meski di tahun 2022 lalu penjualan lahan kawasan industri mengalami perlambatan namun diyakini tetap mengalami percepatan pada tahun 2023. "Tingkat ketersediaan di Jabodetabek hampir penuh. Tapi pengembangan kawasan industri di luar Jawa memiliki tantangan ketersediaan infrastruktur pasokan energi gas dan jalan tol," terang Chandra yang juga menjadi Presiden Center for Market Education -ID.

Wakil Ketua Bidang Riset dan Luar Negeri DPP REI DKI Jakarta ini melihat secara garis besar outlook bisnis properti di tahun 2023 termasuk produk redensial dan komersial (perkantoran) menghadapi tantangan besar yang dipengaruhi kebijakan moneter yang lebih ketat. Penaikan suku bunga dari satu sisi dibutuhkan untuk meredam tingkat Inflasi.

Namun di sisi lain, otoritas moneter.akan menyesuaikannya dengan kenaikan tingkat suku bunga. Tentu saja hal tersebut dapat saja mengurungkan pelaku industri merilis produk terbaru.

Bahkan housing bubble berpeluang terjadi akibat konsumen menarik diri membeli atau berinvestasi properti. Sementara pelaku industri semakin kesulitan yang sulit dihindari akibat dihadapkan makin mahalnya biaya material bangunan.kbc11

Bagikan artikel ini: