Pertamina Raup Pendapatan Rp1.263 Triliun, Terbesar Sepanjang Sejarah

Rabu, 7 Juni 2023 | 09:17 WIB ET
Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati
Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) mencatatkan pendapatan sebesar US$84,89 miliar atau setara Rp1.263 triliun sepanjang tahun 2022. Pendapatan ini disebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah berdirinya perseroan.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan, tahun 2022 ditutup secara cemerlang. Dari pendapatan sebesar itu, perseroan mampu mencatatkan laba sebesar US$3,81 miliar atau setara Rp56 triliun.

"Tahun 2022 bisa kita tutup dengan kinerja yang tertinggi sepanjang sejarah Pertamina. Kita bisa membukukan keuntungan US$3,81 miliar, ekuivalen Rp56 triliun, revenue meningkat 48 persen menjadi US$85 miliar, jadi ini sekitar sepertiganya dari APBN. Ebitda juga mengalami peningkatan 47 persen," katanya, Selasa (6/6/2023).

Nicke mengatakan, capaian ini tak bergantung pada kenaikan harga minyak dunia yang terjadi sepanjang tahun lalu. Menurut catatan, memang terjadi peningkatan harga komoditas global, ditambah lagi dengan adanya perbandingan kurs.

"Capaian ini bukan capaian karena windfall semata dan lain sebagainya, tapi karena memang pondasinya kita perbaiki sehingga semuanya memberikan kontribusi," tegasnya.

"Kalau dikatakan capaian ini karena kurs Rupiah tinggi, Kita pernah mengalami kurs tinggi juga di beberapa tahun terakhir tapi tidak (sama). Lalu kalau karena faktor ICP yang di atas US$100 (per barel), kita juga pernah mengalami sebelumnya tapi pencapaiannya tidak demikian," imbuhnya.

Mengacu pada bahan paparannya, kurs cukup tinggi pernah ada di tahun 2020 dengan Rp14.572 per dolar AS. Namun, pada masa itu, Pertamina catatkan pendapatan US$41,47 miliar.

Sementara itu, berkat transformasi bisnis yang dilakukan sejak itu, Pertamina mampu mencatatkan pendapatan US$84,89 miliar di 2022. Capaian ini didapat dalam kondisi kurs rupiah berada di Rp14.871 per dolar AS dan ICP US$97 per barel.

"Kalau kita lihat yang paling memberikan kontribusi sebetulnya ada di cost. Jadi kalau kita lihat persen dari biaya di tahun 2012 dan 2014, sebagai tahun yang terbaik, Ini tuh sekitar 93-94 persen," ujarnya.

"Tapi di tahun 2022 ini hanya 89 persen cost itu. Artinya ada penghematan sekitar 4 sampai 5 persen kalau kita bandingkan. Dan kalau kita bicara 4 sampai 5 persen dari US$85 miliar, itu bukan angka yang kecil dan tidak bisa hanya satu-dua program," sambungnya.

Sebagai salah satu langkah optimalisasi pendanaan tadi, Nicke mengatakan, ada sebanyak 267 program yang dijalankan sepanjang tahun 2022. Itu dinilai berhasil menghadirkan efisiensi di perusahaan.

"Jadi program-program ini akan tetap stay karena ini mengubah operating mode, bukan hanya sekadar cost cutting. Ini memperlihatkan bahwa tahun 2022 adalah tahun terbaik dan kita berharap ini tentu akan terus tumbuh secara berkelanjutan," jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: