Marak PHK oleh Raksasa Industri Dunia, Gegara AI?

Kamis, 6 Juli 2023 | 08:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kehadiran kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) dikhawatirkan bisa mengancam sejumlah pekerjaan di masa depan. Hal itu menyebabkan banyak industri besar yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Banyak perusahaan berlomba untuk beradaptasi dengan kemajuan pesat dalam teknologi yang sedang dikembangkan di tempatnya sendiri.

Seperti perusahaan teknologi pendidikan asal Amerika Serikat (AS), Chegg yang bulan lalu memangkas 4% tenaga kerjanya atau sekitar 80 karyawan. Keputusan itu diambil untuk efisiensi perusahaan dan ingin menggunakan AI untuk menjalankan bisnis berkelanjutan.

CEO IBM Arvind Krishna mengatakan, pada Mei 2023 perusahaan memiliki visi untuk menghentikan perekrutan karyawan karena menurutnya para karyawan ini bisa digantikan dengan AI. Namun kemudian pernyataan itu direvisi dalam wawancara berikutnya.

"Pernyataan sebelumnya diambil di luar konteks dan dapat saya tekankan bahwa AI akan menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang hilang," kata Krishna dikutip Rabu (5/7/2023).

Pada akhir April 2023, layanan penyimpanan file Dropbox mengatakan bahwa mereka memangkas sekitar 16% tenaga kerjanya atau sekitar 500 orang. Perkembangan AI juga menjadi alasan perusahaan melakukan PHK.

Dalam laporan terbarunya, perusahaan outplacement Challenger, Gray & Christmas mengatakan 3.900 orang di-PHK pada Mei 2023 karena AI. Ini merupakan kali pertama perusahaan melakukan PHK.

Dan Wang, profesor di Columbia Business School mengatakan bahwa AI akan menyebabkan restrukturisasi organisasi. Meski begitu juga tidak otomatis sebagai mesin yang bisa menggantikan manusia.

"AI sejauh yang saya lihat, tidak serta-merta menggantikan manusia, melainkan meningkatkan pekerjaan manusia. Saya pikir jenis persaingan yang harus kita pikirkan lebih lanjut adalah spesialis manusia akan digantikan oleh spesialis manusia yang dapat memanfaatkan alat AI," ujar Wang. kbc10

Bagikan artikel ini: