Bandara Mangkrak, Ekonom: Akibat Pembangunan Tanpa Kajian Optimal

Minggu, 20 Agustus 2023 | 17:31 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pembangunan infrastruktur berupa Bandara Udara sedianya mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat. Namun, dalam operasionalnya baik volume penerbangan maupun penumpang serta kargo yang sepi mengakibatkan maskapai menutup rute tersebut.

Alhasil, keberadaannya menjadi mubazir karena perencanaan dan kajian yang kurang optimal. "Ini adalah lemahnya dari sisi perencanaan pada saat pengkajian. Sebuah program kan melalui pengkajian yang optimal," ujar ekonom kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah di Jakarta, Minggu (20/8/2023).

Lantaran kadung terbangun, infrastruktur tanpa perencanaan matang itu mestinya dioptimalisasi agar membawa kemanfaatan. Namun kenyataannya itu tidak terjadi karena minimnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan daerah sekitarnya.

Bukannya mendukung pemanfaatan infrastruktur tersebut, kebijakan yang dikeluarkan pemda malah tidak memprioritaskan sarana yang sudah terbangun. Karena kebijakan pemda setempat yang tidak mendukung keberadaan bandara itu. Harusnya pemda mendukung dan membuat kebijakan yang mengarah ke bandara itu. Itu sama seperti dengan Bandara Kertajati.

"Jadi kalau kepala daerahnya diam saja, ya tidak akan jalan. Artinya apa yang dibangun pemerintah itu ada lemah di dalam hal penegakan," sambungnya.

Karenanya, agar pembangunan infrastruktur tak berakhir sia-sia, imbuh Trubus, diperlukan partisipasi publik yang intens.Itu karena pembangunan ditujukan untuk melayani masyarakat sekitar dan mendorong perekonomian kawasan.

Tanpa pelibatan publik yang kuat, infrastruktur yang dibangun hanya akan menjadi pajangan semata. "Publik itu diajak bicara. Harus citizen centric. Mengajak masyarakat di sekitar untuk bicara menyatakan pendapatnya. Kalau minim partisipasi publik, itu akan sulit," pungkas Trubus.

Sebagai informasi,setidaknya terdapat tiga bandara di Pulau Jawa yang nyaris tak berfungsi meski telah dibangun untuk melayani masyarakat. Ketiganya yakni Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga, Bandara Ngloram di Blora, dan Bandara Wiriadinata di Tasikmalaya.

Bahkan, Bandara Kertajati Majalengka baru 'berfungsi' setelah Kementerian Perhubungan memutuskan memindahkan keberangkatan jemaah haji dari Bandara Husein Sastranegara. kbc11

Bagikan artikel ini: