Ekonomi China Melambat, Ini Tiga Faktor Penyebabnya

Selasa, 22 Agustus 2023 | 09:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tidak bisa dipungkiri, China telah membangun perekonomiannya menjadi kekuatan dunia melalui pertumbuhan yang stabil selama beberapa dekade. Namun dalam beberapa pekan terakhir, perlambatan ekonomi China telah membuat khawatir para pemimpin internasional.

Pekan lalu, yuan China jatuh ke level terendah dalam 16 tahun. Itu mendorong bank sentral untuk membuat pertahanan terbesarnya terhadap mata uang. Caranya dengan menetapkan nilai yang jauh lebih tinggi terhadap dollar daripada perkiraan nilai pasar.

Beberapa hal yang ditengarai menjadi masalah misalnya pertumbuhan ekonomi yang terhenti setelah lonjakan aktivitas cepat di awal tahun, pasca pencabutan pembatasan Covid-19.

Selain itu, harga konsumen jatuh, krisis real estate semakin dalam, dan ekspor merosot juga menjadi sebab yang lain. Apalagi, pengangguran di kalangan kaum muda menjadi sangat buruk, sehingga pemerintah berhenti menerbitkan data.

Kurangnya langkah tegas untuk merangsang permintaan domestik membuat beberapa bank investasi besar memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi China jadi di bawah 5 persen.

Lantas apa yang sebenarnya jadi masalah perlambatan ekonomi China? Dilansir dari CNN, Senin (21/8/2023) berikut tiga hal utama yang menjadi sebab dari perlambatan ekonomi China:

1. Properti

Perekonomian China lesu sejak April, padahal terdapat momentum pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun yang kuat. Di sisi lain, kekhawatiran telah meningkat bulan ini setelah Country Garden gagal bayar.

Perusahaan ini pernah menjadi pengembang terbesar di negara itu dengan penjualan properti. Dalam waktu bersamaan Zhongrong Trust, perusahaan perwalian teratas juga mengalami masalah.

Laporan menunjukkan, Country Garden telah kehilangan pembayaran bunga atas dua obligasi dolar AS. Itu membuat takut investor dan menghidupkan kembali kenangan akan Evergrande, yang gagal bayar utangnya pada tahun 2021 menandakan dimulainya krisis real estat.

Saat ini, Evergrade masih menjalani restrukturisasi utang, masalah di Country Garden menimbulkan kekhawatiran baru tentang ekonomi China. Sementara itu, gagal bayar utang di pengembang properti tampaknya telah menyebar ke industri perwalian investasi negara senilai US$2,9 triliun.

Zhongrong Trust yang mengelola dana senilai US$87 miliar untuk klien korporat dan individu kaya, telah gagal membayar kembali serangkaian produk investasi kepada setidaknya empat perusahaan, senilai sekitar US$19 juta.

2. Utang Pemerintah Daerah

Kekhawatiran utama lainnya adalah utang pemerintah daerah yang melonjak karena penurunan tajam dalam pendapatan penjualan tanah imbas kemerosotan properti.

Tekanan fiskal parah yang terlihat di tingkat lokal tidak hanya menimbulkan risiko besar bagi bank-bank China, tetapi juga menekan kemampuan pemerintah untuk memacu pertumbuhan dan memperluas layanan publik.

Pemerintah China sejauh ini telah meluncurkan langkah-langkah bertahap untuk meningkatkan ekonomi. Hal itu termasuk pemotongan suku bunga dan langkah-langkah lain untuk membantu pasar properti dan bisnis konsumen.

3. Penurunan demografis

China juga menghadapi tantangan jangka panjang, yakni krisis populasi. Itu tercermin dari tingkat kesuburan total negara itu.

Jumlah rata-rata bayi yang akan dimiliki seorang wanita selama hidupnya, turun ke rekor terendah 1,09 tahun lalu, dari 1,30 hanya dua tahun sebelumnya. Itu berarti tingkat kesuburan China sekarang bahkan lebih rendah dari Jepang, negara yang sudah lama dikenal dengan masyarakatnya yang menua.

Awal tahun ini, China merilis data yang menunjukkan populasinya mulai menyusut tahun lalu untuk pertama kalinya dalam enam dekade. Penurunan pasokan tenaga kerja dan peningkatan belanja kesehatan dan sosial dapat menyebabkan defisit fiskal yang lebih luas dan beban utang yang lebih tinggi.

Tenaga kerja yang lebih kecil juga dapat mengikis tabungan domestik, yang mengakibatkan suku bunga lebih tinggi dan investasi menurun. kbc10

Bagikan artikel ini: