Pemerintah Bidik Ekonomi 2024 Tumbuh 5,2% di Tengah Ketidakpastian Global, Ini Kata Ekonom

Sabtu, 30 September 2023 | 06:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Di tengah ketidakpastian global yang diprediksi berlanjut hingga tahun depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen secara tahunan dalam asumsi dasar ekonomi makro 2024.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pada tahun depan perekonomian global masih akan diwarnai sentimen suku bunga acuan tinggi. Hal ini berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi, seiring dengan meningkatnya biaya pembiayaan.

"Dampak kenaikan suku bunga akan mendorong penurunan aktivitas investasi karena cost of borrowing meningkat, cost of fund meningkat, sehinnga aktivitas ekonomi mengalami perlambatan," kata dia baru-baru ini.

Meski demikian, Josua menilai, target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,2 persen masih realistis. Target tersebut sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang dibuat oleh sejumlah lembaga keuangan internasional.

Josua menjelaskan, sejumlah lembaga keuangan internasional memprediksi angka pertumbuhan ekonomi global tahun 2024 akan lebih baik dari 2023. Misal saja, Bank Dunia yang memprediksi pertumbuhan ekonomi global 2,4 persen pada 2024 dari 2,1 persen pada 2023 dan OECD dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2,9 persen pada 2024 dari 2,7 persen pada 2023.

"Jadi kalau kita lihat 5,2 persen, kalau kita memandang perkembangan global masih mendukung," ujarnya.

Namun demikian, untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi tahun depan, pemerintah perlu menjaga komponen konsumsi rumah tangga tumbuh di atas 5 persen. Hal ini diperlukan untuk mengkompensasi komponen investasi yang berpotensi melambat.

"Investasi kita lihat di sini mungkin challenge terkait dengan foreign direct investment (FDI) temporarely cenderung melambat namun nanti pasca Pemilu keluar kita harapkan rebound," tutur Josua.

Yang menjadi tantangan pemerintah dalam mendongkrak konsumsi rumah tangga ialah masih terdapatnya scarring effect dari pandemi Covid-19. Josua menyebutkan, sejumlah sektor usaha tengah kesulitan, seperti tekstil dan furnitur, sehingga berdampak terhadap konsumsi dari para pekerja sekto tersebut.

"Kalau kita mau mencapai pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, konsumsi rumah tangga minimal 5 persen agar secara keseluruhan di atas 5 persen," ucap Josua. kbc10

Bagikan artikel ini: