Harga Beras Terus Melambung Tinggi, Ini Biang Keroknya

Rabu, 4 Oktober 2023 | 20:48 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendata rerata nasional harga beras premium mencapai Rp 14.900 per kilogram (kg) dan harga beras medium Rp 13.430 per kg pada Rabu (4/10/2023). Fenomena EL Nino yang ditenggarai menjadi penyebab anjloknya produksi beras yang diperkirakan mencapai 1,2 juta ton.

Harga beras premium tertinggi terdapat di Papua senilai Rp 18.390 per kg, sementara harga beras premium terendah ada di Banten senilai Rp 13.840 per kg. Adapun harga beras medium tertinggi ada di Papua Rp 16.130 per kg dan terendah ada di Kalimantan Selatan Rp 12.100 per kg.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi meminta partisipasi pemerintah daerah untuk menurunkan rata-rata nasional harga beras. Menurutnya, hal tersebut sesuai arahan Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas di Istana Negara awal pekan ini.

"Kemarin, Presiden sudah minta saya dan menteri dalam negeri untuk membantu menurunkan harga beras.Jadi, setiap pimpinan daerah bertanggung jawab untuk membantu kami stabilisasi harga pangan," kata Arief di Jakarta, Rabu (4/10/2023).

Arief menekankan akar naiknya harga beras saat ini adalah minimnya produksi. Kendati begitu Arief menyatakan akan berusaha keras untuk menekan harga beras di dalam negeri. Arief mengakui harga gabah lokal sudah jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah atau HPP. Untuk diketahui, HPP yang ditetapkan pemerintah saat ini adalah Rp 5.000 per Kg untuk Gabah Kering Panen di tingkat petani dan Rp 5.100 per Kg di tingkat penggilingan. Sementara itu, HPP Gabah Kering Giling di tingkat penggilingan dinaikkan menjadi Rp 6.200 per Kg di tingkat penggilingan dan Rp 6.300 di tingkat BULOG.

Akan tetapi, Bapanas mendata kini GKP di tingkat petani telah mencapai Rp 6.700 per Kg dan di tingkat penggilingan Rp 7.020. Adapun, GKG di tingkat penggilingan dijual senilai Rp 7.570 per Kg. Artinya, pemerintah melalui BULOG tidak dapat menyerap gabah produksi lokal lantaran harga pasar telah di atas HPP.

Dirut Perum BULOG Budi Waseso mengatakan, hingga 3 Oktober, pihaknya berhasil menyerap sebanyak 854.122 ton beras dari petani. Buwas mengklaim penyerapan beras ini tentunya menguatkan stok yang saat ini dimliki Perum BULOG  sebesar 1,7 juta ton.

Untuk meredam gejolak harga beras, BULOG terus berupaya menggelontorkan operasi pasar atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Selain itu, BULOG juga menyalurkan Bantuan Pangan Tahap II kepada 21,3 juta keluarga penerima untuk bulan September, Oktober dan November.

Kementerian Pertanian menghitung terjadi penyusutan produksi beras sebesar 1,2 juta ton hingga akhir tahun. Penurunan produksi beras diakibatkan siklus cuaca kering El Nino atau pemanasan suhu muka laut yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

Pada kesempatan terpisah, Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi menjelaskan dampak El Nino yang terus berlanjut dapat mengurangi intensitas pengairan untuk area persawahan padi. "Ketersediaan air ini sangat tergantung karena pertanian kita ini tadah hujan. Jadi ini berpengaruh sekali," kata Harvick.

Fenomena El Nino berdampak negatif pada target produksi 30 juta ton beras sampai akhir tahun tak tercapai. Harvick pun mengakui bahwa tingkat produksi beras tahun ini berada di angka yang cenderung konservatif dari biasanya. kbc11

Bagikan artikel ini: