Mobil Listrik Berbasis Baterai Biang Emisi Karbon? Ini Penjelasan Kemenperin

Senin, 23 Oktober 2023 | 19:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjelaskan penyebab emisi karbon mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) lebih tinggi dibandingkan dengan mobil hybrid dan konvensional. Emisi karbon mobil listrik di Indonesia berpotensi lebih tinggi karena proses pembuatan baterai masih menggunakan sumber energi listrik fosil.

Hal itu untuk menjelaskan lebih rinci mengenai pernyataan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang terkait emisi karbon mobil listrik yang diklaim lebih tinggi dibandingkan mobil hybrid maupun konvensional.

"Dalam raker dibahas upaya-upaya strategis yang merujuk hasil beberapa studi diantaranya oleh McKinsey and Company yang melihat dalam proses pembuatan baterai BEV mengeluarkan emisi sekitar 40 persen lebih tinggi dibanding (mobil) hybrid dan bensin karena proses ekstraksi mineral lithium, kobalt dan nikel," ujar Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin R Hendro Martono di Jakarta, Senin (23/10/2023).

Merujuk kajian tersebut, Hendro mengatakan, pencapaian dekarbonisasi ekosistem mobil listrik memerlukan energi listrik terbarukan. Pengurangan tersebut baik untuk energi kendaraan listrik, maupun pemprosesan mineral bagi pembuatan baterai itu sendiri. Selain itu, menurut Hendro, perlu ada fasilitas daur ulang (recyling) baterai yang tersedia. Dengan demikian, baterai bekas kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) dapat didaur ulang atau dijadikan energi penyimpanan sekunder.

Hendro juga menyampaikan kajian life cyle emision oleh Polestar dan Rivian tahun 2021 di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Pasifik yang dilaporkan pada Polestar and Rivian Pathway Report (2023). Kajian tersebut menyatakan emisi yang dihasilkan kendaraan listrik lebih rendah, yaitu 39 tonnes of carbon dioxide equivalent (tCO2e), dibandingkan kendaraan listrik hybrid (HEV) sebesar 47 tCO2e, dan kendaraan konvensional atau internal combustion engine (ICE) yang mencapai 55 tCO2e.

"Angka emisi ini tidak berbeda jauh per ton CO2 per km-nya jika bersamaan bensin yang digunakan lebih bio atau green fuel," kata dia.

Hendro menekankan, life cycle emissions menunjukkan jumlah total gas rumah kaca dan partikel yang dikeluarkan selama siklus hidup kendaraan ditunjukkan dengan satuan tonnes of carbon dioxide equivalent (tCO2e).

"Masih adanya emisi ini sangat tergantung dari input energi bahan bakar dari hulu maupun hilir (kendaraan itu sendiri) dan secara gradual akan menurun jika bahan input ini dilakukan secara green fuel," jelasnya.

Hendro menyarankan public melihat peta jalan KBLBB atau roadmap EV yang dibuat Kemenperin. Kementerian  juga telah membuat langkah mencapai net zero emission lebih cepat dari target pemerintah tahun 2060, melalui sektor alat transportasi yang mengarah pada green mobility. Lewat peta jalan tersebut, pemerintah menargetkan untuk mendorong porsi kendaraan listrik roda dua dan empat yang lebih banyak di tahun 2035 dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.

Kemenperin bersama Kemenko Kemaritiman dan Investasi (Marves) tengah merevisi Perpres 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan, agar menarik bagi pabrikan EV untuk masuk ke Indonesia.

"Hal itu diperlukan untuk memperkuat suplai agar masyarakat juga dapat menikmati kendaraan listrik dengan harga terjangkau. Selain itu, pabrik baterai yang direncanakan mulai beroperasi pada 2025 dapat menekan harga kendaraan EV mengingat faktor biaya terbesar ada di komponen baterai," imbuhnya.

Hendro menegaskan, Kemenperin sebagai pemangku kebijakan senantiasa bekerja keras mewujudkan green mobility. Ia berharap para pemangku kepentingan tidak mengolah opini dari potongan-potongan pernyataan tanpa disertai pemahaman konteks secara utuh, mendidik dan konstruktif. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok berhasil membuat harga mobil listrik semakin terjangkau.

Sementara di Eropa dan Amerika Serikat (AS), harganya malah kian mahal. Hal ini tercatat dalam laporan Affordable EVs and Mass Adoption: The Industry Challenge yang dirilis JATO Dynamics, lembaga riset otomotif internasional. kbc11

Bagikan artikel ini: