Veritas Edukasi Lingkungan, Upaya @bulesampah Ajak Masyarakat Peduli Kelola Sampah

Jum'at, 3 November 2023 | 18:42 WIB ET
Direktur VEL Benedict Wermter saat presentasi di sela peluncuran VEL di Surabaya.
Direktur VEL Benedict Wermter saat presentasi di sela peluncuran VEL di Surabaya.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Sampah telah menjadi permasalahan serius di Indonesia. Hal ini selain karena kurangnya kesadaran masyarakat juga minimnya edukasi pengelolaan sampah.

Melihat kenyataan ini, Yayasan Veritas Edukasi Lingkungan (VEL) hadir untuk meningkatkan kesadaran terhadap pencemaran lingkungan dan mendidik masyarakat Indonesia tentang pengelolaan sampah.

Program-program foundation bersifat inklusif dan disederhanakan, untuk semua orang dan gratis, serta tersedia secara online.

Project Manager VEL, Clara Ocktarida mengatakan, VEL memberikan pengetahuan tentang perubahan iklim dan solusi Reduce, Reuse dan Recycle (3R) sampah organik dan non-organik. VEL menyediakan pendidikan lingkungan hidup secara digital bagi semua orang untuk memenuhi kekurangan pendidikan lingkungan hidup di masyarakat Indonesia.

"Oleh karena itu, VEL secara rutin dan strategis menjalankan beberapa program pendidikan dan amal. Yayasan ini kini sedang mencari pendanaan dan mitra strategis untuk meningkatkan dan memetakan program-program tersebut," katanya pada peluncuran VEL di Surabaya, Jumat (3/11/2023).

Bersama Benedict Wermter selaku Direktur VEL, Clara menyebut VEL bersama dengan perusahaan pengelolaan sampah Indonesia Recovered Indonesia (Reco) mengusung misi "Membuat Indonesia Bersih Kembali".

Benedict yang berasal dari Jerman adalah pembawa acara platform pelaporan iklim @bulesampah di media sosial. Reco mendaur ulang plastik yang sulit didaur ulang dengan fokus pada wilayah pesisir dan daratan terpencil dimana pengelolaan limbah hampir tidak ada.

Selain berhasil menjadi host @bulesampah dengan rata-rata jangkauan mencapai sekitar satu juta akun per bulan, program VEL mencakup memberikan e-learning untuk masyarakat tentang konsumsi dan pembuangan plastik yang saat ini dikembangkan oleh tim VEL. "Platform e-learning ini bertujuan untuk menjangkau 100.000 pengguna pada akhir tahun depan. Selain itu, VEL sedang menyiapkan program pendidikan masyarakat pesisir di sekolah-sekolah di Moluccas serta program donasi surplus pangan," ujar Benedict.

"Saya percaya pada Indonesia yang bersih dan sejahtera. Saya pikir masyarakat Indonesia sekarang sudah bangun dan menyadari bahwa negara kita sudah penuh sampah. Kami menunjukkan kepada mereka siapa yang bertanggung jawab atas hal ini dan kami menunjukkan kepada mereka jalan keluar dari polusi ini," imbuh pemilik akun Instagram @bule_sampah ini.

Benedict juga menjelaskan alasannya melakukan launching yayasannya di Surabaya, menurutnya Surabaya merupakan kota yang memiliki penanganan sampah yang baik.

"Kita adalah pilot project, sebenarnya kota-kota Indonesia kita fokus pertama di Surabaya, bukan berarti Surabaya saja. Tujuan kita adalah membuat Indonesia lebih bersih," jelas pria yang juga seorang jurnalis ini.

Sementara itu Ketua VEL dan CEO Reco, Alex Chandra menuturkan, membuat Indonesia bersih kembali membutuhkan waktu satu generasi lagi untuk menyelesaikannya. "Selain membutuhkan infrastruktur yang baik, kita juga harus memastikan bahwa generasi ini tidak akan mewarisi kebiasaan konsumsi dan pembuangan yang buruk dari generasi sebelumnya. Di sisi lain, generasi ini perlu berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan sampah sedini mungkin. VEL berupaya memberikan edukasi mengenai perubahan perilaku konsumsi dan pembuangan," tandasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro berharap dengan adanya platform ini dapat langsung menyentuh masyarakat. Mengenai edukasi di masyarakat Surabaya sudah melakukan dari jauh-jauh hari.

"Dari kita jalani ini sudah optimal apa belum, kemudian sampai berapa yang berkurang belum ada evaluasi yang baik," jelasnya.

Menurutnya, dari 600 bank sampah itu hanya paling tidak ada 2 sampai 3 ton setiap hari. Dari masalah inilah nanti akan dikolaborasikan antara Pemkot Surabaya dan VEL.

"Varietas Edukasi Lingkungan ini untuk mem-blow up kemudian meningkatkan pengurangan sampah di level masyarakat. Karena 60 persen sampah Kota Surabaya itu berasal dari rumah tangga," ungkap Hebi.

Tak hanya itu, keterbatasan pengalokasian APBD untuk lingkungan terbatas, maka dari itu perlu adanya sinergitas dengan VEL. "Mungkin bisa menggaet dana dan sebagainya sehingga tidak memerlukan APBD," ujarnya. kbc7

Bagikan artikel ini: