Pasar Saham 2024 Diprediksi Bakal Positif, Ini Alasannya

Selasa, 21 November 2023 | 08:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyebut tahun pemilu pada 2024 mendatang bakal kondusif. Oleh karena itu, dia memperkirakan pasar saham akan positif.

"Jika belajar dari pengalaman kita 4-5 pemilu, (pasar saham) Insya Allah akan positif," kata Iman seperti dikutip, Senin (20/11/2023).

Iman mengatakan, berdasaran pengalaman di tahun pemilu seperti 2003-2004 pergerakan cenderung positif, dan trennya meningkat. Pergerakan positif ini juga merujuk pada kondisi global, tidak terlihat adanya dampak yang signifikan dari sentimen tersebut ke pasar domestik.

"Rata-rata Transaksi Harian (RNTH) juga begitu, pada 2003-2004 di tahun pemilu terlihat trennya meningkat. Pada 2023 dibanding tahun lalu kita lihat kondisi global tidak menunjukkan perubahan yang terjadi di negara kita," kata dia.

TKN Prabowo-Gibran Klaim Temukan Kecurangan Pemilu di 10 Titik Iman juga mengatakan, secara historis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar juga mengalami peningkatan pada tahun Pemilu.

Misalnya pada 1999 laju IHSG naik 70,06 persen. Bahkan pada 2019, IHSG melonjak 88,98 persen. Faktor lain yang juga mendukung pergerakan positif pasar modal adalah tumbuhnya kapitalisasi pasar. Tahun 1999, kapitalisasi pasar bursa mengalami kenaikan mencapai 157,11 persen. Sementara di tahun 2019, pertumbuhan kapitalisasi pasar naik 3 persen.

Di sisi lain, pasar saham yang bergerak positif didukung oleh aliran modal asing yang masuk atau capital inflow. Iman mengatakan, transaksi investor asing selalu selalu mencatatkan net buy atau beli bersih. Tahun 2019, investor asing mencatatkan net buy asing sejumlah 49,20 triliun.

"Kita juga melihat perkembangan transaksi asing secara historical (1999-2019) kebanyakan net buy," tambahnya.

Iman juga menyoroti bahwa pergerakan indeks selama tahun politik dipengaruhi oleh belanja dan konsumsi masyarakat yang mengalami peningkatan. Peningkatan ini didorong oleh bertambahnya pengeluaran dari sisi pilkada, partai politik maupun calon kandidat.

"Selama pemilu, beberapa sektor seperti komunikasi, belanja, dan transaksi akan meningkat. Hal ini tentu akan berdampak pada emiten-emiten di sektor konsumer, layanan komunikasi, dan keuangan," tegas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: