Program SMILE Bidik Seribu Petani Swadaya 'Naik Kelas' di Akhir 2023

Kamis, 23 November 2023 | 08:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Program The Smallholder Inclusion for better Livelihood & Empowerment (SMILE) memasuki fase ketiga sejak dirilis tahun 2020. Program kolaborasi PT Asian Agri Group, Apical Group Ltd dan PT KAO ini diyakini akan membawa 1.000 petani swadaya 'naik kelas' yakni dengan memperoleh sertifikasi berskala global- Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO) di akhir 2023.

Senior Manager of Certification & Traceability Asian Agri Ivan Novrizaldie menuturkan, dengan mengantongi sertifikat RSPO petani akan memperoleh yield lebih tinggi. Pasalnya, petani mendapatkan tambahan berupa premi RSPO dari tandan buah segar (TBS) yang dijualnya.

Hingga saat ini, sudah 628 petani swadaya memperoleh sertifikat RSPO. Adapun kini, sertifikat RSPO diberikan kepada koperasi Unit Desa (KUD) Asosiasi Petani Sawit Swadaya Anugrah,Kabupaten Indragiri Hulu, Riau yang menaungi 238 petani swadaya. Dengan memanfaatkan lahan kelapa sawit yang dibudidayakan sebesar 571,92 hektare (ha).

Sementara satu KUD lainnya di Provinsi Jambi tengah menjalani audit. "Saya optimis akhir tahun 1.000 petani swadaya akan memperoleh sertikat RSPO.Bisa jadi jumlahnya lebih," ujar Ivan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (22/11/2023).

Perolehan yield bagi petani swadaya, menurut Ivan, bukanlah tujuan utama. Namun, program SMILE ini mendorong peningkatan kapasitas petani swadaya yang selama ini merupakan petani sangat rentan dalam mata rantai dalam rantai pasok industri kelapa sawit nasional.

Berbeda dengan petani plasma, petani swadaya membudidayakan tanaman sawit belum memenuhi prinisp keberlanjutan di kebun. Akibatnya, biaya yang dikeluarkan untuk memanen TBS pun tidak efisien karena mengindahkan good practises agribusiness (GAP) seperti penggunaan pupuk yang melebihi dosisnya yang tentunya berpotensi merusak lingkungan.

Dengan program SMILE, petani untuk dapat mengantongi sertifikasi RSPO dengan biaya kegiatan audit budidaya usaha perkebunan menjadi tanggung jawab perusahaan pembeli TBS. Karena itu pula,perusahaan dituntut membimbingi dan mengorganisasikan petani berlembaga dan menjalankan praktik budidaya perkebunan sawit yang baik. Hal itu mulai dari pemupukan, pemeliharan hingga pemanenan. Gilirannya, petani swadaya tersertifikasi RSPO mampu masuk kedalam ekosistem rantai pasok industri sawit berkelanjutan.

Model bisnis yang diinisiasikan dalam program SMILE mendelegasikan KAO dan APICAL bukan hanya menjamin hasil panen TBS petani. Namun perusahaan juga dituntut memberikan pembinaan yang berkesinambungan kepada petani swadaya.

Misalnya bantuan perlengkapan APD, pembangunan sarana pergudangan limbah hasil panen. Kendati begitu, Ivan mengakui tidak mudah mengajak dan mengorganisasikan petani swadaya berlembaga. Tidak terkecuali KUD Asosasi Petani Sawit Swadaya Anugerah yang digawangi Sutoyo untuk memperoleh sertifikat RSPO banyak menemukan kendala dan rintangan di lapangan.

Sutoyo pun mengaku, tidak mudah mengajak dan mengorganisasikan petani swadaya turut serta dalam program SMILE.Namun dengan pembinaan dari perusahaan serta solusi yang ditawarkan membuat petani menyadari praktik pekebun sawit berkelanjutan.

Melalui program SMILE, petani mampu meningkatan pendapatan hasil 10% dan potensinya akan makin bertambah.Pasalnya produktivitas hasil panen TBS baru nampak dalam beberapa tahun kemudian. Dia mencontohkan waktu pemanenan yang tepat. "Jangan hanya terlihat buah kelihatan sedikit berwarna kuning langsung dipanen. Jutru hal ini akan menurunkan produktivitas buah TBS," terang Sutoyo.

RSPO Head of Smallholders Programme Indonesia Guntur Cahyo Prabowo mengatakan, sertifikasi RSPO yang diperoleh petani swadaya telah mendekatkan meraih akses terhadap sumberdaya, teknologi dan sumber pendanaan yang sangat dibutuhkan bagi usaha perkebunan sawit berkelanjutan. Di tahun 2013-2023, terdapat 61 program sejenis yang dibiayai RSPO dengan nilai hamper US$2 juta. Setidaknya hal ini yang mendorong 14.000 petani sawit di Tanah Air telah memperoleh sertifikat RSPO.

"Hampir 100% petani swadaya bergantung terhadap insentif yang ditawarkan kredit RSPO. Terhitung dari Oktober 2022-September 2023, kredit RSPO berkontribusi sebesar US$5 juta langsung terhadap kelompok petani swadaya Indonesia atau meningkat 47% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$3,3 juta. Hal ini akan terus bertambah seiring juga pertambahan kelompok petani yang memperoleh sertikat RSPO," terang Guntur.

Karena itu, pihaknya terus mendukung sepenuhnya kolaborasi semua pemangku kepentingan dalam program SMILE sebagai pelaku rantai pasok kelapa sawit yang bertujuan meningkatan kapasitas petani swadaya di Tanah Air. Inisiatif terdepan ini menawarkan model bisnis yang memiliki signifikasi terhadap pemberdayaan petani. Selain itu mendorong peningkatan inkluasi petani swadaya guna mencapai minyak sawit berkelanjutan. kbc11

Bagikan artikel ini: