Suku Bunga Tinggi, Laba Multifinance Berisiko Terkoreksi di 2024

Rabu, 29 November 2023 | 18:17 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kemungkinan laba perusahaan multifinance akan terkoreksi pada 2024. Hal tersebut lantaran kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 6%.

Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Bambang Wijoyosatrio Budiawan mengatakan, meski suku bunga naik perusahaan multifinance berhati-hati apabila akan menaikan bunga kepada debitur, terutama untuk pembiayaan di sektor multiguna.  Menurutnya apabila bunganya naik, maka debitur akan lari. Oleh sebab itu laba industri leasing kemungkinan akan terkoreksi.

"Kalau masih mau masuk ke situ [multiguna] yang akan menjadi koreksi nanti di profit misal 4,5% menjadi 4%," kata Bambang seperti dikutip, Rabu (29/11/2023).

Namun demikian, Bambang mengatakan, penurunan laba tersebut tak menjadi masalah serius. Justru perusahaan yang siap dengan penurunan laba karena tak menaikan bunganya menurutnya lebih sustain.

"Kalau yang mau hajar kanan kiri ya kemungkinan NPF-nya yang kena," katanya.

Bambang juga menegaskan, apabila bisnis multifinance mengalami perlambatan pada awal tahun. Hal tersebut bukan karena adanya Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, tetapi memang pada awal-awal tahun perusahaan multifinance baru memanaskan mesinnya. Kenaikan mungkin akan terlihat pada pertengahan 2024.

"Saya enggak melihat sentimen negatif daripada pesta demokrasi," ungkapnya.

Bambang mengatakan, pihaknya juga optimistis bahwa multifinance bisa tumbuh double digit pada 2024. Terutama karena Pemerintah juga memproyeksikan ekonomi masih akan tumbuh sebanyak 5% tahun depan.

"Jadi, equivalent kalau berdasarkan historis pertumbuhan ekonomi 5% multifinance akan lebih tumbuh dua kali lipatnya," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum APPI Suwandi juga melihat bahwa pertumbuhan perusahaan multifinance akan berlanjut pada 2024. Dia melihat banyaknya ekonom yang masih optimistis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Senada, Suwandi melihat bahwa pada dua bulan pertama tahun 2024 ada kemungkinan melambat. "Biasanya kan memang kalau bulan pertama dan kedua masih pemanasan. Harapan kita selama ekonomi tumbuh dan pendapatan tidak terganggu, selama daya beli tidak terganggu dan selama tidak ribut-ribut semua jalan sesuai fungsi," ungkapnya.

Suwandi juga melihat bahwa sektor multiguna akan menjadi pendorong pertumbuhan multifinance. Terlebih masih banyak masyarakat yang membutuhkan kendaraan baru pasca Covid-19. Dengan demikian, dia juga masih optimistis terkait dengan pertumbuhan laba perusahaan multifinance.

Barometer kami di 2020-2022, saat Covid-19 orang mau beli kendaraan enggak bisa beli. Jadi bayangkan, orang biasanya tiga tahun saja ingin ganti motor," katanya. kbc10

Bagikan artikel ini: