Ini Biang Kerok 90 Persen Nikel RI Dikuasai China

Rabu, 6 Desember 2023 | 06:31 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mengungkap ada beberapa faktor yang membuat perusahaan tambang nikel RI akhirnya lebih memilih menggandeng investor asal China, terutama dalam membangun proyek smelter di dalam negeri.

Ketua Bidang Kajian Strategis Pertambangan Perhapi, Muhammad Toha mengatakan, salah satu pertimbangannya yakni investasi yang ditawarkan investor China relatif lebih murah dibandingkan dengan negara lain. Di samping itu, China juga mempunyai penguasaan teknologi yang mumpuni.

"Investasinya lebih mahal kalau kita menggunakan teknologi dari Amerika atau Eropa. Sementara China capex-nya jauh lebih murah itu fakta yang terjadi, kenapa akhirnya kemudian perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih banyak menggandeng perusahaan dari China," kata dia dikutip Selasa (5/12/2023).

Menurut Toha, teknologi pengolahan yang ditawarkan investor Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa bisa dua kali lipat lebih mahal apabila dibandingkan dengan teknologi yang ditawarkan China. Meskipun murah, ia memastikan dari sisi kualitas, teknologi yang digunakan tak kalah dari negara-negara tersebut.

"Memang 30 tahun lalu teknologi China memang teknologi yang kita anggap masih ketinggalan mereka tidak kompetitif dari sisi kualitas. Itu yang menyebabkan kenapa kita waktu itu berkiblat ke Amerika, Jepang dan Eropa. Sekarang kebalik kondisinya," kata dia.

Sebelumnya, mantan Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla (JK) turut menyoroti mengenai pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia. Khususnya komoditas nikel, yang dinilai dimonopoli oleh negara tertentu yakni China.

Semula JK mengkritisi sikap rendah diri yang dimiliki Indonesia terkait pengelolaan sumber daya alam di dalam negeri. Padahal, seharusnya Indonesia bisa mempunyai sikap percaya diri dan berjuang dalam penguasaan teknologi.

"Kenapa kita selalu tidak percaya diri, kita bicara banyak hal, kita bicara nikel, 90% nikel ini dikuasai China karena mereka selalu menganggap teknologi adalah mereka. Kita selalu harga diri rendah, seakan-akan tidak bisa menguasai teknologi," katanya.

Menurut JK, Indonesia sendiri diperkirakan akan mengoperasikan sejumlah 116 smelter pada beberapa tahun ke depan. Dengan demikian, seharusnya teknologi pengoperasian di pabrik smelter juga dapat dikuasai oleh Indonesia.

"Perusahaan itu membuktikan bahwa semua bisa dilaksanakan dengan teknologi dan kita bisa menguasai teknologi itu, smelter, apapun, listrik apa pun bisa kita kuasai," kata JK. kbc10

Bagikan artikel ini: